Mengoptimalkan Kinerja Melalui Psychological Safety
Dalam dunia kerja yang terus berkembang, inovasi menjadi kunci untuk mencapai kinerja yang optimal. Hal tersebut disampaikan oleh Yunus Triyonggo, HRGA Director di PT Bridgsetone Tire Indonesia dalam acara 19th HR Expo yang berlangsung bulan lalu di JCC Jakarta.
Menurutnya salah satu konsep penting yang perlu dipahami dalam hal ini adalah psychological safety, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Prof. Amy Amundsen dan dibahas dalam Harvard Business Review.
“Psychological safety merujuk pada situasi dimana individu merasa aman untuk berkomunikasi secara terbuka, berbagi ide, dan mengakui kelemahan tanpa takut akan konsekuensi negatif,” jelasnya lebih jauh.
Dalam konteks ini, para pemimpin diharapkan untuk menunjukkan kerentanan mereka, sehingga menciptakan iklim kerja yang inklusif dan mendukung.
Ketika organisasi berhasil menciptakan psychological safety, karyawan akan merasa lebih bebas untuk menyampaikan ide-ide mereka. Ini akan mendorong aliran ide yang lebih baik dan meningkatkan rasa keterlibatan dalam setiap interaksi di tempat kerja. Dengan demikian, mentalitas untuk mengambil risiko pun akan tumbuh di antara karyawan.
“Setidaknya ada tiga manfaat utama dari menciptakan lingkungan kerja yang aman secara psikologis adalah: meningkatkan komunikasi terbuka, memfasilitasi ideasi, dan memperkuat rasa saling mendukung dalam tim,” katanya.
Namun demikian dalam praktiknya, para praktisi HR di Indonesia perlu menerapkan kompetensi baru ini agar dapat berfungsi sebagai penasihat yang efektif bagi CEO dan pimpinan perusahaan.
“Salah satu langkah yang disarankan adalah memisahkan antara remunerasi dan pengembangan dalam manajemen kinerja. Dengan demikian, fokus dapat sepenuhnya pada pengembangan individu, tanpa adanya kebingungan yang sering muncul ketika kedua hal ini digabungkan,” ungkapnya lebih jauh.
Selain itu, sesi umpan balik harus dilakukan secara lebih sering, tidak hanya pada akhir tahun atau semester. Sesi one-on-one yang rutin akan membantu menciptakan komunikasi yang lebih baik antara atasan dan bawahan. Dalam konteks ini, karyawan juga harus diberikan kebebasan untuk menyesuaikan target mereka sesuai dengan perubahan lanskap pasar.
“Antara lain dengan menggunakan metode seperti OKR (Objectives and Key Results), agar karyawan dapat mengubah target mereka secara real-time, menciptakan dinamika yang lebih responsif terhadap perubahan,” jelasnya.
Kinerja yang baik tidak hanya bergantung pada sistem yang ada, tetapi juga harus bersifat dinamis. Dengan dukungan sistem yang kuat, organisasi dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan yang terjadi, termasuk disrupsi yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi seperti AI.
“Dalam hal ini, AI seharusnya digunakan sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan HR, memungkinkan mereka untuk tetap menjadi ahli dalam bidang mereka.
Kesimpulannya, menciptakan lingkungan kerja yang aman secara psikologis adalah langkah penting menuju inovasi dan kinerja yang lebih baik. Dengan menerapkan prinsip-prinsip psychological safety, organisasi dapat mendorong komunikasi terbuka, meningkatkan keterlibatan karyawan, dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan yang ada.
“Di era disrupsi ini, mentalitas yang fleksibel dan dinamis menjadi sangat penting, agar organisasi dapat tetap relevan dan kompetitif, ” tutupnya.