Empat Cara Mengembangkan SDM Unggul Dalam Perusahaan
SDM merupakan unsur penting dan sangat menentukan keberlangsungan dalam mencapai tujuan perusahaan. Oleh karena itu, seharusnya SDM adalah personil yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan organisasi. Dimana SDM dapat menghayati hubungan kepentingan organisasi dengan kepentingan perorangan. Hal itu bisa dikatakan dengan SDM unggul.
Menurut Seger Handoyo, Ketua Umum HIMPSI Indonesia sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya kepada Redaksi Intipesan (5/3) di Jakarta menyebutkan bahwa ada beberapa kriteria SDM unggul yang harus diketahui. Pertama, secara umum bahwa SDM unggul adalah mereka yang mampu menunjukkan kinerja yang bagus.
Namun dari mata psikologi hal itu saja tidak cukup. Harus ada dua kriteria penting yang harus dipegang SDM unggul, yaitu dia harus sejahtera secara psikologis dan baik secara sosial.
Seger menjelaskan, sejahtera secara psikologis bisa diartikan ketika seseorang bekerja dia bahagian dan termotivasi untuk melakukan pekerjaanya. Kemudian, dia baik secara sosial yang berarti dia dapat bekerja sama seluruh stake holder perusahaan, berhubungan baik dan saling memberikan dukungan.
“Dia bisa berkinerja tinggi, juga sejahtera secara psikologis dan baik secara sosial. Tiga kriteria itulah yang bisa disebut SDM unggul,” ungkap Seger.
Lebih lanjut Seger menambahkan untuk mengembangkan SDM menjadi unggul, ada empat hal yang harus diperhatikan dari perspektif psikologi.
1. Mencocokan antara individu dengan pekerjaanya.
Seger mengungkapkan bahwa mengembangkan SDM unggul langah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa organisasi mendapatkan karyawan yang cocok. Mencocokkan antara karyawan dengan pekerjaanya juga dengan organisasinya.
“Kalau orang tidak cocok dengan pekerjaanya dia akan stress. Apalagi kalau dia tidak mampu melakukan pekerjaanya, berarti dia tidak suka dengan pekerjaanya dan tidak cocok dengan pekerjaan itu. Dia akan tidak bekerja dengan baik,” ungkapnya.
2. Memberikan kesempatan karyawan untuk berkembang
SDM di perusahaan harus dikembangkan supaya dia jadi unggul. Bagaimana karyawan di training, di coaching dan dilatih supaya mereka setiap hari lebih baik.
“Seperti halnya seorang sepak bola yang hampir setiap harinya dilatih agar menjadi seorang pemain yang terbaik dan ahli. Itulah dia bisa jadi unggul,” ungkap Seger.
3. Memberikan dukungan
HRD harus dapat memberikan dukungan kepada karyawannya. Dukungan tersebut bisa berupa membrikan penilaian baik kepada karyawan. Memberikan pengajaran ketika karyawan tersebut tidak bisa dan mengalami kesulitan dalam pekerjaanya. Serta memotivasi agar karyawan tetap produktif dan semangat dalam bekerja.
“Kalau dia tidak bisa kita kasih pengajaran. Bukan di nilai sebagai orangnya malas, tidak kompeten tetapi diubantu agar dia bisa. Kalau dia tidak bersemangat, harus dicari mengapa dia tidak bersemangat. Kemudian dibantu agar dia bersemangat kembali. Jadi dia mendapatkan dukuangan,” ungkap Seger.
Dukungan sosial juga penting, tambahnya. Jika ada yang mengalami kesulitan atau dalam keadaan jenuh, rekan kerjanya bisa memberikan dukungan.
“ misalnya jika ada temannya yang sedang ribet, suntuk, temannya bisa menanyakan apa yang bisa dia bantu. Jadi sistem organisasi harus meungkinkan saling memberikan dukungan terhadap satu dengan yang lainnya,” sarannya.
4. Memberikan umpan balik.
SDM bisa unggul jika karyawan diberi umpan balik. Jadi, ketika seseorang menunjukkan ketidakbisaannya dalam pekerjaannya. Maka di beri pengetahuan dan pengarahan agar dia menjadi bisa.
“Jadi diberi umpan balik, bukan malah dibicarakan dari belakang. Si ini loh dia enggak kompeten, si iniloh dia enggak bisa. Melakukan ini aja enggak bisa. Bukan tindakan yang seperti itu. Tapi, dia harus diberi tahu bahwa kamu belum baik dalam melakukan ini sehingga kamu harus memperbaiki dalam hal ini, ini, ini,” tegas Seger.
Dirinya menambahkan bahwa SDM unggul bisa dipengaruhi oleh kecerdasaan seseorang. Namun hal itu bukanlah poin terpenting dalam menjadi SDM unggul. Sekarang ini yang paling penting adalah bagaimana karyawan mau belajar terus-menerus. Bekerja, bukanlah waktu untuk berhenti belajar. Jadi ketika bekerja, harus terus belajar. Kemudian, bagaimana dia mampu mengelola emosinya.
“ Orang yang unggul dan berhasil adalah orang yang terus-menerus belajar meskipun sudah bekerja. Dan dia mengelola emosinya. Bahwa dia tahu kapan dia harus marah dan dimana harus marah. Kapan dia harus menjaga amarah dan kapan dia harus meluapkan amarahanya di tempat yang tepat. Dan emosi itu bagaimaan dia mengatur meregulasi emosinya. Orang-orang yang bisa mengatur, meregulasi emosinya adalah orang-orang yang bisa berhasil, jadi kecerdasan itu adalah tingkat penting yang ke sekian. Jadi pertama adalah dia mau terus-menerus belajar, dia mengatur emosinya mengelola emosinnya, itu yang penting,” jelasnya menutup.
Foto : glassdoor.co.uk