IntiPesan.com

Budaya Kerja Yang Menyenangkan Ternyata Mampu Meningkatkan Employee Engagement

Budaya Kerja Yang Menyenangkan Ternyata Mampu Meningkatkan Employee Engagement

United coworkers standing with their hands together above workplace in modern office, celebrating successful project, top view, teambuilding and unity background

Suksesnya suatu perusahaan tergantung pada kinerja karyawannya. Salah satu hal yang bisa menjadi kunci sukses adalah apa yang disebut employee engagement. Employee engagement adalah satu situasi di mana setiap karyawan memiliki komitmen kuat pada pekerjaan mereka, tujuan perusahaan, serta nilai dari perusahaan tersebut. Secara umum karyawan yang memilliki engagement kuat akan tampak antusias dan bekerja dengan sungguh-sungguh bukan saja karena mereka digaji, namun karena mereka ingin memberikan sesuatu untuk perusahaan.

Perusahaan yang memiliki employee engagement kuat cenderung dapat bekerja lebih baik dan memberikan hasil kerja yang lebih baik pula. Salah satu elemen terpenting dalam employe engagement adalah lingkungan kerja dan hal itu bisa datang dari praktek-praktek perusahaan berkaitan dengan kerja. Mulai dari cara bagaimana manajemen mengelola employee, bagaimana cara mereka mengelola suasana kerja dan lainnya. Kemudian dari situ bisa muncul , happy culture.

Menurut Arbono Lasmahadi, Vice President Human Resources Sintesa Group ketika ditemui oleh Redaksi intipesan minggu lalu menyebutkan, budaya yang menyenangkan cenderung dianggap bisa membangun kebahagiaan karyawan sebagai bagian dari employee engagement. Hal tersebut disampaikan oleh .

“Kalau itu enggak hadir, mungkin agak susah juga menghadirkan employee engagement. Kalau kita mau karyawan bisa menjadi bagian dari organisasi maka mereka harus bisa merasa happy terlebih dahulu dengan organisasi, ” demikian jelasnya.

Dirinya menambahkan sebenarnya konsep employee engagement pada saat ini sangat sudah berkembang dari konsep awal, daripada saat dimana perusahaan berusaha melihat sejauh mana keterikatan karyawan dengan organisasi dengan perusahaan. Konsep itu berkembang karena adanya perubahan demografi karyawan, seperti dengan munnculnya Generasi Baby Boomers, Generasi X dan sekarang Generasi Y.

“Jadi secara konsep dasar mungkin enggak berubah, tetapi imeplementasinya harus lebih melihat kondisi sekarang. Hal tersebut tentunya harus menjadi perhatian perusahaan , karena dalam mengengage generasi-generasi seperti itu harus dilakukan dengan baik, tanpa harus mengorbankan generasi sebelumnya. Karena biasanya Generasi Y pasti mempunyai profil yang berbeda dengan generasi sebelumnya, Jadi nantinya kalau company ingin membangun sebuah konsep employee engagement yang efektif, dia harus mempertimbangkan macam-macam generasi yang ada di perusahaan. Perusahaan enggak bisa membuat satu program untuk semuanya, dan mereka harus bisa memodifikasi sesuai dengan kebutuhan setiap generasi,” demikian jelasnya.

Dalam mengimplementasikan pengelolaan employee engagement setiap perusahaan, pertama-tama harus dimulai dengan memahami sekarang kondisi realnya seperti apa. Jadi jangan sampai ketika membuat program tetapi salah tembak, karena tidak dilakukan assessment yang benar.

“Jadi menurut saya namanya survei itu perlu dilakukan, dan proses membuat survei harus benerjangan sampai membuat survei hasilnya tdak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena survei itu bisa menjadi data base untuk membuat rencama perubahan dan untuk membuat rencana tindakan. selain itu survei juga membantu untuk memberikan informasi kepada manajemen tentang kondisi engagement di perusahaan saat ini. Dari temuan itu nantinya akan dapat diketahui plan apakah yang akan dilakukan, supaya nanti bisa membantu perusahaan dan strateginya seperti apa, ” ujarnya lebih jauh.

 

Sumber/foto : ceotodaymagazine.com