Manajemen Suksesi Tak Lagi Cukup—Saatnya Berpikir Terintegrasi
Di tengah perubahan yang begitu cepat—entah itu karena perkembangan teknologi, perubahan demografi tenaga kerja, atau persaingan dalam mendapatkan talenta terbaik—muncul satu pertanyaan penting yang tak bisa dihindari oleh para pemimpin bisnis: siapa yang akan meneruskan kepemimpinan organisasi ini ke depan?
Pertanyaan ini bukan sekadar formalitas di ruang rapat, karena ini juga mencerminkan kebutuhan mendesak bagi organisasi untuk memikirkan masa depan, dengan cara yang jauh lebih strategis daripada sekadar menyusun daftar nama calon pengganti. Inilah yang menjadi sorotan utama dari Agung Junanto, former Director Human Capital Management & GA PT KAI (Persero) yang menjadi salah satu pembicara dalam Talent Management Summit yang berlangsung pada Jumat (3/6) di Jakarta.
Dalam pemaparannya, Agung menyampaikan bahwa pendekatan lama yang dikenal dengan istilah succession planning kini sudah tak lagi memadai.
“Succession planning saat ini sudah berkembang menjadi succession management,” ungkapnya.
Apa bedanya?
Menurut Agung, succession management bukan lagi soal mengganti satu orang dengan orang lain, melainkan membangun sebuah sistem yang mampu mencetak pemimpin masa depan secara berkelanjutan. Dan sistem ini harus menyatu dengan elemen-elemen lain dalam manajemen talenta.
“Manajemen suksesi tidak bisa berdiri sendiri,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa proses ini harus terintegrasi dengan pengembangan pembelajaran (learning & development), manajemen kinerja, hingga pengelolaan talent pool. Tak kalah pentingnya, organisasi juga butuh metode asesmen yang solid untuk mengukur potensi dan kesiapan individu secara objektif dan menyeluruh.
Namun, integrasi di dalam fungsi-fungsi HR saja belum cukup. Yang paling krusial, kata Agung, adalah keterkaitan langsung antara strategi suksesi dan arah jangka panjang perusahaan.
“The most important thing adalah succession management ini, juga harus terintegrasi dengan rencana jangka panjang perusahaan,” tegasnya.
Tanpa itu, proses suksesi hanya menjadi kegiatan administratif, bukan alat strategis.
Melalui pandangannya ini, Agung mengajak para pemimpin dan praktisi HR untuk tidak lagi melihat suksesi sebagai dokumen statis berisi daftar calon pengganti. Sebaliknya, suksesi harus menjadi bagian dari perjalanan organisasi dalam menyiapkan masa depan—dengan penuh kesadaran, perencanaan, dan integrasi.
Karena menurutnya, keberlangsungan bisnis tidak hanya ditentukan oleh strategi hari ini, tapi oleh kesiapan kita dalam mencetak pemimpin yang siap melanjutkan estafet besok dan seterusnya.