Ambidexterity dalam Organisasi: Dari Konsep ke Praktik Nyata

Konsep ambidextrous leadership dan ambidextrous organization kian relevan di tengah tekanan bisnis yang menuntut perusahaan untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga terus beradaptasi. Tantangan utamanya bukan semata pada perumusan strategi, melainkan pada kemampuan organisasi menyeimbangkan eksploitasi terhadap kekuatan yang sudah dimiliki dengan eksplorasi terhadap peluang baru—dan memastikan keseimbangan ini benar-benar dipahami serta dijalankan oleh seluruh karyawan.
Isu tersebut mengemuka dalam sesi tanya jawab pada acara HR Expo bulan lalu di JICC, Jakarta, ketika Charles DW Simamere dari FIF Group (PT Federal International Finance) mengangkat pertanyaan mengenai implementasi nyata ambidexterity di dalam perusahaan.
“Menyeimbangkan eksplorasi dan eksploitasi itu tidak mudah. Tantangannya justru bagaimana kita menginternalisasikannya ke dalam organisasi,” ujarnya.
Charles juga menekankan pentingnya pendekatan pengelolaan potensi karyawan yang tidak semata bertumpu pada angka kinerja, tetapi mampu diterjemahkan secara konkret ke dalam jalur karier, promosi, dan peluang pengembangan yang jelas.
Menanggapi hal tersebut, Rizki Amelia Director of People Culture and Sustainability,Tripatra menegaskan bahwa ambidextrous organization bukan sekadar konsep populer atau wacana manajerial. Banyak perusahaan, menurutnya, gagal bertahan bukan karena kekurangan kompetensi, melainkan karena terlalu lama bergantung pada pola dan keberhasilan masa lalu.
Dalam kondisi bisnis yang terus berubah, organisasi dituntut untuk tetap mengoptimalkan apa yang sudah mereka kuasai, sembari secara sadar dan terstruktur membangun kapabilitas baru.
“Ambidexterity itu bukan tujuan akhir, melainkan proses yang terus berjalan,” ujar Ibu Amelia.
Dirinya mengibaratkan konsep ini seperti kemampuan menggunakan kedua tangan secara seimbang—bukan meninggalkan kekuatan lama, melainkan menambahkan kemampuan baru agar organisasi tetap lincah dan relevan menghadapi perubahan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa peran HR menjadi krusial dalam menjaga keseimbangan tersebut. Organisasi perlu secara jernih memilah mana potensi yang dapat dikembangkan dari dalam, mana yang dapat dipenuhi melalui kolaborasi, dan mana yang memang harus diperoleh dari luar. Pendekatan inilah yang memungkinkan eksploitasi dan eksplorasi berjalan beriringan secara sehat, sekaligus membangun ketangguhan organisasi dalam jangka panjang.


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS